Rabu, 13 Juni 2012

Kebiasaan

Bismillahirrahmanirrahim



Sebut saja Kusuma. Ia seorang siswa yang baru saja pindah masuk ke salah satu sekolah favorit di kotanya. Sejak kedatangannya di sekolah itu, makin lama bukannya tambah semangat. Kusuma bingung, selagi beradaptasi dengan teman-teman barunya, pelajaran di sekolahnya dulu nggak sesulit di sekolah barunya. “Duh, sulitnya.” Kata-kata itu sesekali terlontar sewaktu pelajaran berlangsung. Entah itu pelajaran IPA ataupun IPS.

Memang, pelajaran di sekolah favorit berbeda dengan sekolah biasa. Terkadang materinya lebih banyak, lebih susah, pokoknya lebih lah. Mau ngaak mau, yang sekolah disana baik yang masuk dari awal semester, atau masuk di tegah-tengah semester harus kerja keras atur diri biar nggak ketinggalan (yang sejak awal aja harus kerja keras, apalagi yang baru masuk). Tapi karena zaman udah berubah, murid baru yang diharapkan bagus keluar dari jalur biasanya. Yang seharusnya sadar kalo dia sekolah favorit, eh malah tetep lakukan kebiasaan SMP. Alhasil, nilai-nilai yang muncul berkisar 50 an. Hiks, menyedihkan.

Sementara mengejar pelajaran yang nggigit, Kusuma juga harus adaptasi dengan teman-teman sekelasanya. Kebetulan ia masuk di kelas yang beda. Sementara kelas yang lain kata-kata misuh udah biasa dengar, tapi nggak berlaku di kelasnya. Kusuma harus mengganti kebiasaannya yang misuh karena didesak teman-teman sekelasnya. Emang sih, Kusuma nggak berubah dalam sekejap, dalam waktu singkat, sekali desakan. Tapi perlahan, ia menghilangkan kosakata kotornya. Alhasil, kata-kata misuh tak lagi terdengar di kelasnya, serima dengan nilai sekolahnya.

Itulah secuplik cerita tentang kebiasaan. Mengapa sih kita butuh adanya ‘pembiasaan’? Ya soalnya seharusnya kita sadar diri kalau kita ada di fase remaja, fase labil-labilnya hidup, yang menentukan jadi apa dewasa nanti. Contoh nyata lainnya yang ngetren waktu ini adalah kecanduan game (online). Awalnya cuma sekedar mencoba, atau terpaksa maen gara-gara diajak teman. Tapi karena asik, awalnya cuma nonton, terus nyoba lagi seminggu sekali, lanjut tiga hari sekali, akhirnya setiap hari..

Memang banyak di antara teman kita yang belum sadar akan fase ini. Dan akankah kita termasuk di dalamnya? Semoga saja tidak. Kalau sewaktu remaja aja rusak, gimana waktu dewasa nanti? Siapa yang bakal jadi pemimpin yang ‘nggenah’? Selagi ada waktu, untuk berubah emang susah. Untuk berubah emang berat. Tapi kalau nggak dibiasakan mulai sekarang, kapan lagi?

Jumat, 13 Januari 2012

Apa Yang Terjadi Pada Negeri Ini?

Assalamualaikum

Selepas sekolah Lujo menyandarkan tubuhnya pada kursi plastik sekedar melepas lelah. Dihadapannya, tersiar televesi dengan beragam acaranya. Sewaktu saudaranya mengganti-ganti channel karena bosan, Lujo terhentak dengan judul topik perbincangan yang diadakan salah satu televisi ternama. Judul acara tersebut adalah, "Menyelamatkan Negeri Autopilot". Sekilas, judul tersebut sangatlah menarik, sangatlah penting, membuka apa yang sebenarnya. Itu secara sekilas. Namun begitukah? Lujo pun merasa sedih, berapa juta pasang mata yang menonton acara ini, dan hanya berapa ribu pasang mata yang mempunyai filter.

Dari pendapat orang-orang yang diberi pertanyaan oleh Lujo, ia mendapati bahwa banyak orang yang menyukai channel tersebut. Karena topiknya begitu mengena, dan membuka cakrawala pemerintahan. Namun, seberapa bahayakah topik-topik semacam itu?

Pertama, susuri dulu apa tujuan channel tersebut. Hasilnya, sulit menemukan tujuan yang sebenarnya. Namun jika dilihat dari aktivitas-aktivitas channel tersebut, channel tersebut menyiapkan kondisi untuk pemilu berikutnya. Langsung sebut saja, Metro Tv yang awalnya menyiarkan Nasdem sebagai Restorasi Indonesia yang sekarang menjadi Partai. Mengerikan. Kembali lagi ke topik sebelumnya. Apa sih bahayanya?

Banyak pengamat politik mengkhawatirkan akan adanya bahaya besar yang disebabkan suara media massa. Mulai dari topik-topiknya, media massa menganggap buruk kinerja pemerintah. Karena topik-topik tersebut disiarkan beruntun dan berulang-ulang, seperti pepatah yang menyebutkan bahwa keburukan yang dilakukan 1000 kali, akan berubah menjadi hal yang biasa. Maka otomatis orang yang memercayai berita tersebut akan menganggap pemerintah sudah tidak bisa dipercaya lagi. Mereka lebih suka dengan media massa tersebut ketimbang pemerintah. Alhasil, mereka akan terseret kemana media massa berjalan. Ketika pemerintah sudah tidak dipercaya lagi, yang terjadi adalah kosongnya pemerintahan karena pemerintah sudah tidak dianggap lagi. Jika suatu negara tidak mau dipimpin, lalu siapa yang akan memimpin? Apakah dengan adanya berita tersebut mengerucutkan pernyataan bahwa "semua" sudah tidak dapat dipercaya lagi? Bagi mereka yang duduk di pemerintahan dengan ketulusan tentunya akan sakit hati.Jika suatu negara terjadi kekosongan pemerintahan, akan mudah masuk pemerintah-pemerintah ilegal yang siap menjerat publik. Maka apa bedanya dengan slogan "Divide et Impera?"

Secara implisit, postingan Lujo menyebutkan bahwa ia tidak setuju akan gerakan Nasdem. Jika perekrutan saja menggunakan cara yang busuk, bagaimana lagi jika sudah memimpin? Keep our mind waras.