Kamis, 26 Desember 2013

Ikut Sumbernya atau Pembawanya?



Ada yang bilang istrinya Buya Hamka nggak pakai jilbab. Dulu, Aisyiyyah (Muhammadiyah) dan Muslimat (NU) juga nggak pakai jilbab sebagai pertanda bahwa sebenarnya ulama berbeda pendapat tentang wajibnya memakai jilbab.


Kalau dikatakan bahwa istrinya Buya Hamka tidak pakai jilbab maka dari itu kita boleh meniru istrinya buya Hamka, kita katakan kepada mereka, Istrinya Nabi Nuh itu kafir. Apakah terus dengan begitu kita boleh kafir karena istrinya Nabi Nuh kafir? Kemudian istrinya Nabi Luth itu juga kafir. Apakah kemudian kita membolehkan kita kafir karena merujuk kepada istrinya Nabi Luth? Sebagian paman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam itu juga menentang Islam. Apakah kemudian kita menyatakan bahwa boleh menentang Islam karena sebagian paman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam itu menentang Islam. Begitu juga anaknya Nabi Nuh, itu juga tidak mengikuti ajaran Nabi Nuh, tidak mengikuti ajaran Islam. Apakah terus kita boleh mengatakan kepada anaka kita, wahai anak kau boleh menentang Islam karena anaknya Nabi Nuh juga menentang Islam. 

Tentunya ini tidak bisa diterima. Jadi intinya tidak boleh menjadikan perilaku seorang tokoh atau perilaku masyarakat sebagai dasar daripada pengambilan hukum. 

Yang benar dasarnya dalam mengambil hukum adalah Al-Qur'an dan Sunnah serta beberapa kaidah yang telah diletakkan oleh para ulama. Dan tidak ada satupun dalam kaidah tersebut bahwa perilaku seseorang, perilaku tokoh bisa menjadi sumber pengambilan hukum.

Perlu saya tambahi di sini, bahwa bisa saja ulama tersebut, tokoh masyarakat tersebut yang istrinya tidak pakai jilbab atau anaknya tidak pakai jilbab, barangkali ulama tersebut meyakini bahwa berjilbab wajib. Hanya saja istrinya membangkang, atau tokoh tersebut, orang tua tersebut telah menasehati anaknya, tetapi anaknya tidak mau mendengar nasehat bapaknya. Jadi sekali lagi, perbuatan sekeluarga dari para ulama itu tidak bisa dijadikan dasar untuk pengambilan hukum.

Sabtu, 21 Desember 2013

Tugas PTIK Maba 2013



Angan-angan para pelajar SMA menjadi mahasiswa terkadang begitu menyenangkan tak terkecuali Lujo. Ia merasa bisa bebas, terbebas dari jereatan mata pelajaran yang Ia tak tahu untuk apa Ia memelajari itu. Memang ada benarnya tidak semuanya benar. Lujo sendiri yang kuliah di PWK, bertemu dengan pelajaran kalkulus atau yang menyerempet itu. Namun, yang perlu di ingat, kuliah di PWK kebanyakan sifatnya aplikatif salah satunya adalah PTIK, pengantar teknologi informasi dan komunikasi.


Di dalam PTIK, mahasiswa diberi pengetahuan mengenai dunia komputer, mulai dari sejarahnya hingga penggunaannya masa kini. Pengetahuan tanpa aplikasi bisa dibilang percuma, layaknya mengumpulkan material bangunan tanpa membangun apapun. Nah, disini mereka bisa mengaplikasikan sebagiannya secara langsung antara lain, membuat daftar isi, tabel, dan gambar secara cepat untuk makalah, menganalisis masalah konflik yang berhubungan dengan UU ITE (informasi dan transaksi elektronik), dan juga mengelola blog pribadi seperti yang saya lakukan.

Selamat menikmati :)

Rabu, 11 Desember 2013

Peran Teknologi

Teknologi zaman sekarang sudah berkembang pesat, terlampau pesat, melebihi angan-angan orang-orang tua. Dulu awalnya cuma sepeda, berkembang jadi sepeda motor atau mobil bagi yang punya uang. Dulu awalnya cuma perahu, berkembang jadi kapal, sekarang ada pesawat. Dulu awalnya cuma surat-suratan, berkembang jadi telepon-teleponan, berkembang jadi email, sekarang udah ada video conference.
Teknologi yang berkembang pesat ini, kita perlu merenung sejenak. Yang perlu kita pegang saat ini, teknologi ibarat pisau tajam. Kalau nggak mampu menguasainya, bisa melukai penggunanya.
Entah, udah ada yang bilang sebelumnya atau nggak. Teknologi itu mengikuti peradaban, peradaban berasal dari kebudayaan, kebudayaan sesuai dengan kebiasaan. Sementara kebiasaan belum tentu baik. Kalau kebiasaannya nggak baik, maka kebudayaan juga nggak baik, Kalau kebudayaannya nggak baik, maka peradabannya juga nggak baik. Teknologinya bakal disalahgunakan..
Nah, inilah yang perlu dipikirkan bagi para penggiat teknologi. Entah itu pemilik saham, produsen, pengembang, atau distributornya, sudahkan teknologi itu bermanfaat atau cuma sebatas pemenuhan keinginan pasar? Teknologi yang hebat bukanlah teknologi yang rumit, canggih, memiliki mobilitas tinggi (portabel) dll. Teknologi yang hebat itu teknologi yang bermanfaat bagi daerah tersebut. Jadi paragraf sebelumnya dibalik jadi..
Teknologi itu mengendalikan kebiasaan. Kebiasaan membentuk kebudayaan. Kebudayaan menghasilkan peradaban. Nah, sudahkah teknologi menjadi barang yang bermanfaat atau sekadar mendekatkan yang jauh dan mejauhkan yang dekat?