Jumat, 13 Januari 2012

Apa Yang Terjadi Pada Negeri Ini?

Assalamualaikum

Selepas sekolah Lujo menyandarkan tubuhnya pada kursi plastik sekedar melepas lelah. Dihadapannya, tersiar televesi dengan beragam acaranya. Sewaktu saudaranya mengganti-ganti channel karena bosan, Lujo terhentak dengan judul topik perbincangan yang diadakan salah satu televisi ternama. Judul acara tersebut adalah, "Menyelamatkan Negeri Autopilot". Sekilas, judul tersebut sangatlah menarik, sangatlah penting, membuka apa yang sebenarnya. Itu secara sekilas. Namun begitukah? Lujo pun merasa sedih, berapa juta pasang mata yang menonton acara ini, dan hanya berapa ribu pasang mata yang mempunyai filter.

Dari pendapat orang-orang yang diberi pertanyaan oleh Lujo, ia mendapati bahwa banyak orang yang menyukai channel tersebut. Karena topiknya begitu mengena, dan membuka cakrawala pemerintahan. Namun, seberapa bahayakah topik-topik semacam itu?

Pertama, susuri dulu apa tujuan channel tersebut. Hasilnya, sulit menemukan tujuan yang sebenarnya. Namun jika dilihat dari aktivitas-aktivitas channel tersebut, channel tersebut menyiapkan kondisi untuk pemilu berikutnya. Langsung sebut saja, Metro Tv yang awalnya menyiarkan Nasdem sebagai Restorasi Indonesia yang sekarang menjadi Partai. Mengerikan. Kembali lagi ke topik sebelumnya. Apa sih bahayanya?

Banyak pengamat politik mengkhawatirkan akan adanya bahaya besar yang disebabkan suara media massa. Mulai dari topik-topiknya, media massa menganggap buruk kinerja pemerintah. Karena topik-topik tersebut disiarkan beruntun dan berulang-ulang, seperti pepatah yang menyebutkan bahwa keburukan yang dilakukan 1000 kali, akan berubah menjadi hal yang biasa. Maka otomatis orang yang memercayai berita tersebut akan menganggap pemerintah sudah tidak bisa dipercaya lagi. Mereka lebih suka dengan media massa tersebut ketimbang pemerintah. Alhasil, mereka akan terseret kemana media massa berjalan. Ketika pemerintah sudah tidak dipercaya lagi, yang terjadi adalah kosongnya pemerintahan karena pemerintah sudah tidak dianggap lagi. Jika suatu negara tidak mau dipimpin, lalu siapa yang akan memimpin? Apakah dengan adanya berita tersebut mengerucutkan pernyataan bahwa "semua" sudah tidak dapat dipercaya lagi? Bagi mereka yang duduk di pemerintahan dengan ketulusan tentunya akan sakit hati.Jika suatu negara terjadi kekosongan pemerintahan, akan mudah masuk pemerintah-pemerintah ilegal yang siap menjerat publik. Maka apa bedanya dengan slogan "Divide et Impera?"

Secara implisit, postingan Lujo menyebutkan bahwa ia tidak setuju akan gerakan Nasdem. Jika perekrutan saja menggunakan cara yang busuk, bagaimana lagi jika sudah memimpin? Keep our mind waras.