Sebut saja Kusuma. Ia seorang siswa yang baru saja pindah masuk ke salah satu sekolah favorit di kotanya. Sejak kedatangannya di sekolah itu, makin lama bukannya tambah semangat. Kusuma bingung, selagi beradaptasi dengan teman-teman barunya, pelajaran di sekolahnya dulu nggak sesulit di sekolah barunya. “Duh, sulitnya.” Kata-kata itu sesekali terlontar sewaktu pelajaran berlangsung. Entah itu pelajaran IPA ataupun IPS.
Memang, pelajaran di sekolah favorit berbeda dengan sekolah biasa. Terkadang materinya lebih banyak, lebih susah, pokoknya lebih lah. Mau ngaak mau, yang sekolah disana baik yang masuk dari awal semester, atau masuk di tegah-tengah semester harus kerja keras atur diri biar nggak ketinggalan (yang sejak awal aja harus kerja keras, apalagi yang baru masuk). Tapi karena zaman udah berubah, murid baru yang diharapkan bagus keluar dari jalur biasanya. Yang seharusnya sadar kalo dia sekolah favorit, eh malah tetep lakukan kebiasaan SMP. Alhasil, nilai-nilai yang muncul berkisar 50 an. Hiks, menyedihkan.
Sementara mengejar pelajaran yang nggigit, Kusuma juga harus adaptasi dengan teman-teman sekelasanya. Kebetulan ia masuk di kelas yang beda. Sementara kelas yang lain kata-kata misuh udah biasa dengar, tapi nggak berlaku di kelasnya. Kusuma harus mengganti kebiasaannya yang misuh karena didesak teman-teman sekelasnya. Emang sih, Kusuma nggak berubah dalam sekejap, dalam waktu singkat, sekali desakan. Tapi perlahan, ia menghilangkan kosakata kotornya. Alhasil, kata-kata misuh tak lagi terdengar di kelasnya, serima dengan nilai sekolahnya.
Itulah secuplik cerita tentang kebiasaan. Mengapa sih kita butuh adanya ‘pembiasaan’? Ya soalnya seharusnya kita sadar diri kalau kita ada di fase remaja, fase labil-labilnya hidup, yang menentukan jadi apa dewasa nanti. Contoh nyata lainnya yang ngetren waktu ini adalah kecanduan game (online). Awalnya cuma sekedar mencoba, atau terpaksa maen gara-gara diajak teman. Tapi karena asik, awalnya cuma nonton, terus nyoba lagi seminggu sekali, lanjut tiga hari sekali, akhirnya setiap hari..
Memang banyak di antara teman kita yang belum sadar akan fase ini. Dan akankah kita termasuk di dalamnya? Semoga saja tidak. Kalau sewaktu remaja aja rusak, gimana waktu dewasa nanti? Siapa yang bakal jadi pemimpin yang ‘nggenah’? Selagi ada waktu, untuk berubah emang susah. Untuk berubah emang berat. Tapi kalau nggak dibiasakan mulai sekarang, kapan lagi?