Kenangan waktu kecil masih kuat dalam
ingatan kami. Masa-masa indah kami dalam memelajari ilmu agama. Awalnya yang
mengajari kami membaca huruf Arab huruf alif, ba dan ta adalah orang tua kami.
Lalu orang tua kami menitipkan kami di mushala dekat rumah untuk belajar
mengaji lebih dalam dan mungkin mengenalkan kami untuk berinteraksi dengan
orang lain yang berbeda umur jauh serta membiasakan kami untuk pergi ke
mushala.
Seusai
Shalat Ashar, kami segera menuju mushala dan membentuk lingkaran belajar
mengaji. Mulai dari Iqra, Juz ‘amma, hingga tilawah Al Quran cetakan Indonesia,
ditambah dengan tajwid dan makhrajnya kami pelajari. Tak hanya itu, kami pun
dibekali ilmu aqidah, akhlak, fiqh dan kisah-kisah Islam yang tersebar dari
masa Rasulullah hingga masa kini. Meskipun hanya sekitar sejam, kami menerima
ilmu agama hampir setiap hari. Sehingga kami bisa memahami sebagian yang entah
seberapa besar atau kecil ilmu yang telah kami terima menurut kami saat itu.
Qadarullah,
karena kesabaran guru yang mengajari kami mengaji, Alhamdulillah bekal itu
terasa manfaatnya hingga sekarang. Terima kasih Ayah, terima kasih Ibu, terima
kasih guru. Seandainya tiada engkau bekali kami belajar mengaji sewaktu kecil,
mungkin kami akan menjadi orang-orang yang buta terhadap Al Quran. Bisa jadi
kami akan menyenangi ilmu agama namun berada pada jalan yang salah sebagaimana
aliran-aliran ekstrim-sesat yang muncul di tengah-tengah masyarakat saat ini,
atau bisa jadi kami menjadi orang-orang yang suskes di dunia tapi tak mengenal
akhirat nan abadi, naudzubillah.
Zaman
sedang berubah, kehidupan juga berubah. Kehidupan kami pun harus berpisah
karena jenjang pendidikan kami berbeda. Sewaktu aku SMP, budaya baik ini telah
hilang di masyarakat. Meskipun aku masih melanjutkan mengaji Al Quran secara
pribadi, namun karena aku terlalu menikmati nikmatnya ilmu dunia di sekolah,
aku jadi tak begitu memedulikan hilangya budaya baik di masyarakat ini.
Sewaktu
aku memasuki jenjang SMA, aku mulai belajar berorganisasi. Setelah bergabung
dengan Sekbid IV –OSIS bagian sosial– lalu bergabung di robotika, aku direkrut
menjadi pengurus SSKI (Sub Seksi Kerohanian Islam). Aku pun menerimanya dengan
senang hati karena salah satunya adalah pelampiasan kerinduan tak adanya SKI
atau yang dikenal dengan remus, remaja mushala di perkampungan, atau dikenal
dengan rohis, kerohanian Islam di perkuliahan, sewaktu SMP dulu.
Dalam proses
pembelajaran organisasi itu, aku sedikit mendapati pelajaran untuk mampu
memahami keadaan sekitar. Pandanganku pun dibuka seluas-luasnya tentang
zaman yang semakin berbeda. Sejak saat itu, aku pun menyadari keadaan yang ada
pada mushala masa kecil dulu. Yang dulu mushala kecil penuh sesak suara
pendidikan, sekarang berubah begitu longgar karena ada pelebaran mushala. Namun,
mushala terasa lebih sepi dan tidak ada lagi kegiatan pendidikan untuk anak-anak.
Entah tidak ada murid, tidak ada guru yang mengajar, atau tidak ada kesadaran
dari para orang tua mereka terhadap pentingnya Pendidikan Agama Islam bagi
anak-anak mereka. Kemanakah arah gerak anak-anak generasi sekarang? Apa pula aktivitas keseharian mereka?
Tak
dapat dipungkiri lagi. Ketika aku menyeberangi perumahan dalam perjalanan
antara rumah dengan masjid atau mushala pada waktu maghrib, banyak kudapati
bising dengungan suara televisi. Ketika dulu kecil, aku dan teman-teman aku
segera berlarian ke mushala untuk memenuhi seruan adzan. Saat ini, banyak
anak-anak kecil yang disibukkan di waktu maghribnya dengan menonton di channel-channel televisi swasta yang terkadang
malah menonton bersama orang tuanya. Apa saja acara televisi saat maghrib itu?
Memang
sudah bukan rahasia lagi. Anak-anak zaman sekarang lebih banyak menerima
informasi daripada mencari. Jika mencari pun, informasi yang dicari juga tak
begitu bermutu. Contohnya saja, film yang menjadi guru pembimbingnya, sinetron
yang menjadi private teacher-nya atau komedi yang menjadi teman
berbicaranya. Jika di internet, biasanya mereka sekedar meng-update status di twitter atau facebook (atau masih ada juga yang berkutat
dengan friendster?). Selain jejaring sosial? Ada yang bermain online
game,
ada yang mencari gambar-gambar artis pujaan mereka, ada yang mencari video klip
musik yang lagi tren, dan ada juga yang membuka situs-situs yang begitulah..
naudzubillah.
Di waktu yang
sama, ada juga anak-anaknya yang masih sibuk diluar rumah. Bermotor ria
keliling kota sambil membawa lawan jenis atau sekedar mejeng di mall atau nongkrong sambil ngobrol di
tempat makan lesehan. Dalam kondisi menyebalkan ini, dimana peran orang tua
dalam mendidik anaknya?
Mengutip
kata-kata para penceramah, para orang tua tidak sempat mengingatkan anak-anak
mereka karena mereka juga sibuk mencari nafkah dari pagi sampai sore yang
kadangkala masih tak cukup untuk menghidupi keluarga di zaman sekarang ini.
Mereka semata-mata menyerahkan dan mempercayakan pendidikan agama anak kepada
guru yang mendidik mereka di sekolah. Padahal kita sendiri tahu bahwa kurikulum
sistem pendidikan (sekolah negeri) kita sangat minim proporsi Pendidikan Agama
Islam. Hanya dua jam pelajaran dalam satu minggu yang itupun terkadang berjalan
kurang efektif. Belum lagi jika jadwal hari pelajaran agama libur. Seberapa
luaskah ilmu agama itu? Cukupkah hanya dua jam pelajaran seminggu? Cukupkah itu?
Cukupkah?