"Kamu harus sekolah agar bisa memasuki dunia kerja. Dengan bekerja, kamu akan memiliki kesejahteraan. Dengan kesejahteraan, kamu bisa hidup mapan." Aku benci ketika orang mengatakan, "Sekolah itu kunci sukses."
Mari kita lihat kenyataannya. Bukankah 8 dari 10 orang terkaya di dunia tak menyelesaikan pendidikannya di bangku sekolah? Steve Jobs, Bill Gates, Richard Bonson (sopo iku?), Oprah Winfrey, Mark Zuckenberg, Henry Ford, Stephen Spielberg dan seterusnya.
Mungkin cara berpikirku salah. Tetapi aku hanya anak yang sedang mempertanyakan kejanggalan-kejanggalan akan pendidikan yang terus menerus membuatku gelisah dan bertanya-tanya. Aku memerlukan pendidikan, tanpa ragu. Tetapi sejujurnya, aku benci sekolah!
Aku tahu, pendidikan adalah kunci keberhasilan. Tapi, benarkah pendidikan harus selalu dan selamanya didapatkan dari sekolah? Aku jadi ragu tentang itu. Mengapa aku merasa sekolah justru hanya memberikan pengajaran dan bukan pendidikan? Bukankah seharusnya pendidikan adalah cara untuk menginspirasi manusia supaya mereka mencapai kualitas terbaik dari dirinya? Mengapa pendidikan selama ini demikian kurang ajar direduksi sebatas memberi guru-guru pekerjaan untuk mengisi otak kami dengan hafalan, huruf dan angka-angka, gambar-gambar dan apa saja yang kelak akan diukur dengan seperangkat soal dalam ujian? Aku tak mau masa depanku ditentukan oleh hasil ujian!
Sekolah, bagiku telah mempersempit cara berpikir dan potensi-potensiku. Sekolah mungkin mengajari kita cara berpikir kritis, problem solving, dan berbagai soft-skill kreativitas lainnya, tetapi di akhir, semuanya diukur dengan ujian! Ironis, sebab kita hanya diperbolehkan mengikuti satu jawaban dalam ujian, sehebat apapun cara kita menjawabnya, sekreatif apapun cara kita menemukan solusi bagi sebuah persoalan, selama tak sesuai kunci jawaban, guru-guru akan memberi kita tanda silang berwarna merah dan mungkin membuat kita tak lulus ujian. Itulah sebabnya mereka yang tak memiliki cara berpikir dan isi pikiran yang sama dan seragam dengan guru, sistem, dan kurikulum akan dianggap bodoh, tak lulus, tak memenuhi syarat, dan seterusnya. Di sekolah, yang dianggap pintar adalah mereka yang bisa menyelesaikan soal-soal, bukan mereka yang bisa menyelesaikan persolan.
Aku tidak bermaksud menolak sekolah, sebab nyatanya aku sendiri bersekolah, bekerja keras, mengikuti ujian, lulus, dan mendapat ijazah. Aku hanya ingin kita semua kembali memikirkan tentang itu, mendefinisikan ulang makna paling dalam dari pendidikan dan mempersoalkan berbagai masalah yang membuat sekolah dipenuhi kebusukan, sampah-sampah pikiran dan sampah-sampah perasaan.
Demikianlah, aku dan teman-temanku, kami, hidup dalam dunia tak sempurna. Saat pagi memaksa kami pergi ke sekolah untuk bekerja keras demi masa depan yang tak jelas. Guru-guru bagai diktator yang meneror kami agar menanam pohon masa depan yang seragam, disiram hafalan dan dipupuki serangkaian ujian yang membuat kami ketakutan.
Tulisan ketika aku masih SMA, dari sumber entah darimana. Tambahan:
Namun, di mana para orangtua kami saat kami rindu kasih sayang mereka? Mengapa mereka selalu sibuk? Mengapa pelajaran moral tak pernah sungguh-sungguh kami dapatkan dari lingkungan kami yang nyata?
-Menanti buku 'de schooling' terbit-