Rabu, 04 Januari 2017

Lembah Silikon Asia

Bismillah

Silikon memiliki kerabat dekat dengan germanium karena memiliki elektron valensi yang sama: empat. Elektron valensi empat memiliki sifat semi konduktor, sifat yang mampu meneruskan arus listrik, atau menahannya. Keduanya biasa digunakan dalam komponen elektronika seperti dioda dan transistor serta turunannya, LED dan microprocessor. Lembah silikon, berarti sebuah tempat berisikan riset teknologi elektronika tercipta secara masif.

Awal istilah ini muncul tahun 1971 pada Electronic News di Amerika. Lokasi yang dimaksudkan adalah San Fransisco bagian selatan sebagai tempat 39 markas bisnis teknologi elektronika dan ribuan startup. Di lembah silikon ini (silicon valley), orang-orang berdatangan dari berbagai negeri tidak hanya unutk mengembangkan teknologi. Berapapun umurnya, dari manapun asalnya, orang-orang datang untuk saling memberi bantuan, baik sebagai partner, mentor, bahkan sebagai donor. Salah satu perusahan di bidang teknologi energi, Lightsail, didanai oleh Bill Gates sebesar 43 juta dolar! Bagaimana dengan Asia?


Di Asia, ada beberapa tempat yang berpotensi menjadi lembah silikon. Beberapa telah mendeklarasikan secara resmi, seperti Hong Kong dan Singapura. Tapi pengakuan sementara ada pada India (Bangalore) karena masyarakatnya sangat tanggap dengan perkembangan teknologi. Bagaimana dengan raksasa Cina?

Cina memiliki kondisi yang unik dibandingkan dengan negara-negara lain. Apabila negara lain mengembangkan lembah silikonnya dengan mendompleng produk-produk global seperti Facebook, Microsoft, Google, dan Oracle, Cina tidak. Cina masih mempertahankan budaya aslinya, budaya yang tertutup. Ada semacam Great Wall budaya pada Cina, bahkan masuk dalam perkembangan teknologi. Sebut saja Google, Facebook, dan e-Bay, ketiga produk ini dilarang beredar. Akhirnya, Cina punya wadah sendiri dalam mengembangkan teknologinya. Dibalik tembok besar Cina, ada hal menarik dalam pengembangan teknologinya. Salah satu tempat yang berpotensi menjadi lembah silikon di Cina adalah Shenzhen. Apa menariknya?

Shenzhen dikenal sebagai kota instan. Pada tahun 1979, jumlah penduduknya hanya berkisar 30.000. Saat ini, jumlahnya mencapai 10 juta penduduk, menyamai Jakarta! Menariknya lagi, perkembangan penduduk yang begitu pesat dapat diimbangi dengan penataan kota sehingga menjadi salah satu kota terbersih di Cina, berbeda dengan Jakarta. Dalam pengembangan teknologi yang tertutup itu, apa menariknya?

Cina menerapkan pengembangan teknologi dengan lisensi terbuka (open source). Semua orang bisa mengembangkan apapun yang dipeganya. Ambil saja contoh dalam bidang smartphone, Android yang dimiliki oleh Google dikembangkan Cina menjadi MIUI dengan tagline "Redefining Android". Sifat open source inilah yang membuat harga jual teknologi tidak seperti Apple yang begitu melangit, tetapi sangat murah karena tidak mematok lisensi. Dengan demikian, orang lain tak perlu membayar royalti produk yang ia gunakan. Sehingga tak heran, ada iPhone yang harga aslinya 6 jutaan tetapi bisa dibeli seharga 2 jutaan dengan kualitas yang sama!

Mereplika produk adalah keunggulan dari open source. Sekalipun tidak ada biaya keuntungan dari royalti, justru dari sanalah orang-orang tak perlu repot mengurus hak cipta sehingga teknologi di Shenzhen bisa berkembang begitu cepat. Kau mengambilnya, kau memodifikasinya, kau mengembangkannya menjadi teknologi lain. Seperti itulah open source.

Chaihuo Makerspace, lab untuk anak-anak dalam mengembangkan teknologi

Sebagian orang mengatakan, open source adalah produk dari komunisme. Ya, bisa jadi seperti itu. Terlebih lagi The Pirate Bay memindahkan servernya dari Swedia ke Korea Utara untuk menghindari penangkapan kepolisian internasional terkait pembajakan properti dunia maya. Tapi yang mencengangkan adalah, Microsoft mulai mengubah sifat pengembangan teknologinya dari closed source menjadi open source dengan adanya Windows Power Shell di Windows 10. Apakah Microsoft komunis? Android juga bersifat open source. Apakah Android komunis?

Pertanyaan terbesarnya adalah, apakah Indonesia menjadi lembah silikon Asia?


1 komentar: