Rabu, 11 Desember 2013

Peran Teknologi

Teknologi zaman sekarang sudah berkembang pesat, terlampau pesat, melebihi angan-angan orang-orang tua. Dulu awalnya cuma sepeda, berkembang jadi sepeda motor atau mobil bagi yang punya uang. Dulu awalnya cuma perahu, berkembang jadi kapal, sekarang ada pesawat. Dulu awalnya cuma surat-suratan, berkembang jadi telepon-teleponan, berkembang jadi email, sekarang udah ada video conference.
Teknologi yang berkembang pesat ini, kita perlu merenung sejenak. Yang perlu kita pegang saat ini, teknologi ibarat pisau tajam. Kalau nggak mampu menguasainya, bisa melukai penggunanya.
Entah, udah ada yang bilang sebelumnya atau nggak. Teknologi itu mengikuti peradaban, peradaban berasal dari kebudayaan, kebudayaan sesuai dengan kebiasaan. Sementara kebiasaan belum tentu baik. Kalau kebiasaannya nggak baik, maka kebudayaan juga nggak baik, Kalau kebudayaannya nggak baik, maka peradabannya juga nggak baik. Teknologinya bakal disalahgunakan..
Nah, inilah yang perlu dipikirkan bagi para penggiat teknologi. Entah itu pemilik saham, produsen, pengembang, atau distributornya, sudahkan teknologi itu bermanfaat atau cuma sebatas pemenuhan keinginan pasar? Teknologi yang hebat bukanlah teknologi yang rumit, canggih, memiliki mobilitas tinggi (portabel) dll. Teknologi yang hebat itu teknologi yang bermanfaat bagi daerah tersebut. Jadi paragraf sebelumnya dibalik jadi..
Teknologi itu mengendalikan kebiasaan. Kebiasaan membentuk kebudayaan. Kebudayaan menghasilkan peradaban. Nah, sudahkah teknologi menjadi barang yang bermanfaat atau sekadar mendekatkan yang jauh dan mejauhkan yang dekat?

Jumat, 12 Juli 2013

Proporsi Pendidikan Agama

Kenangan waktu kecil masih kuat dalam ingatan kami. Masa-masa indah kami dalam memelajari ilmu agama. Awalnya yang mengajari kami membaca huruf Arab huruf alif, ba dan ta adalah orang tua kami. Lalu orang tua kami menitipkan kami di mushala dekat rumah untuk belajar mengaji lebih dalam dan mungkin mengenalkan kami untuk berinteraksi dengan orang lain yang berbeda umur jauh serta membiasakan kami untuk pergi ke mushala.
_Quran__by_ShoOoSha
Seusai Shalat Ashar, kami segera menuju mushala dan membentuk lingkaran belajar mengaji. Mulai dari Iqra, Juz ‘amma, hingga tilawah Al Quran cetakan Indonesia, ditambah dengan tajwid dan makhrajnya kami pelajari. Tak hanya itu, kami pun dibekali ilmu aqidah, akhlak, fiqh dan kisah-kisah Islam yang tersebar dari masa Rasulullah hingga masa kini. Meskipun hanya sekitar sejam, kami menerima ilmu agama hampir setiap hari. Sehingga kami bisa memahami sebagian yang entah seberapa besar atau kecil ilmu yang telah kami terima menurut kami saat itu.
Qadarullah, karena kesabaran guru yang mengajari kami mengaji, Alhamdulillah bekal itu terasa manfaatnya hingga sekarang. Terima kasih Ayah, terima kasih Ibu, terima kasih guru. Seandainya tiada engkau bekali kami belajar mengaji sewaktu kecil, mungkin kami akan menjadi orang-orang yang buta terhadap Al Quran. Bisa jadi kami akan menyenangi ilmu agama namun berada pada jalan yang salah sebagaimana aliran-aliran ekstrim-sesat yang muncul di tengah-tengah masyarakat saat ini, atau bisa jadi kami menjadi orang-orang yang suskes di dunia tapi tak mengenal akhirat nan abadi, naudzubillah.
Zaman sedang berubah, kehidupan juga berubah. Kehidupan kami pun harus berpisah karena jenjang pendidikan kami berbeda. Sewaktu aku SMP, budaya baik ini telah hilang di masyarakat. Meskipun aku masih melanjutkan mengaji Al Quran secara pribadi, namun karena aku terlalu menikmati nikmatnya ilmu dunia di sekolah, aku jadi tak begitu memedulikan hilangya budaya baik di masyarakat ini.
Sewaktu aku memasuki jenjang SMA, aku mulai belajar berorganisasi. Setelah bergabung dengan Sekbid IV –OSIS bagian sosial– lalu bergabung di robotika, aku direkrut menjadi pengurus SSKI (Sub Seksi Kerohanian Islam). Aku pun menerimanya dengan senang hati karena salah satunya adalah pelampiasan kerinduan tak adanya SKI atau yang dikenal dengan remus, remaja mushala di perkampungan, atau dikenal dengan rohis, kerohanian Islam di perkuliahan, sewaktu SMP dulu.
Dalam proses pembelajaran organisasi itu, aku sedikit mendapati pelajaran untuk mampu memahami keadaan sekitar.  Pandanganku pun dibuka seluas-luasnya tentang zaman yang semakin berbeda. Sejak saat itu, aku pun menyadari keadaan yang ada pada mushala masa kecil dulu. Yang dulu mushala kecil penuh sesak suara pendidikan, sekarang berubah begitu longgar karena ada pelebaran mushala. Namun, mushala terasa lebih sepi dan tidak ada lagi kegiatan pendidikan untuk anak-anak. Entah tidak ada murid, tidak ada guru yang mengajar, atau tidak ada kesadaran dari para orang tua mereka terhadap pentingnya Pendidikan Agama Islam bagi anak-anak mereka. Kemanakah arah gerak anak-anak generasi sekarang? Apa pula aktivitas keseharian mereka?

Tak dapat dipungkiri lagi. Ketika aku menyeberangi perumahan dalam perjalanan antara rumah dengan masjid atau mushala pada waktu maghrib, banyak kudapati bising dengungan suara televisi. Ketika dulu kecil, aku dan teman-teman aku segera berlarian ke mushala untuk memenuhi seruan adzan. Saat ini, banyak anak-anak kecil yang disibukkan di waktu maghribnya dengan menonton di channel-channel televisi swasta yang terkadang malah menonton bersama orang tuanya. Apa saja acara televisi saat maghrib itu?

457489_472683866091234_239277559_o 

Memang sudah bukan rahasia lagi. Anak-anak zaman sekarang lebih banyak menerima informasi daripada mencari. Jika mencari pun, informasi yang dicari juga tak begitu bermutu. Contohnya saja, film yang menjadi guru pembimbingnya, sinetron yang menjadi private teacher-nya atau komedi yang menjadi teman berbicaranya. Jika di internet, biasanya mereka sekedar meng-update status di twitter atau facebook (atau masih ada juga yang berkutat dengan friendster?). Selain jejaring sosial? Ada yang bermain online game, ada yang mencari gambar-gambar artis pujaan mereka, ada yang mencari video klip musik yang lagi tren, dan ada juga yang membuka situs-situs yang begitulah.. naudzubillah.

Di waktu yang sama, ada juga anak-anaknya yang masih sibuk diluar rumah. Bermotor ria keliling kota sambil membawa lawan jenis atau sekedar mejeng di mall atau nongkrong sambil ngobrol di tempat makan lesehan. Dalam kondisi menyebalkan ini, dimana peran orang tua dalam mendidik anaknya?


Mengutip kata-kata para penceramah, para orang tua tidak sempat mengingatkan anak-anak mereka karena mereka juga sibuk mencari nafkah dari pagi sampai sore yang kadangkala masih tak cukup untuk menghidupi keluarga di zaman sekarang ini. Mereka semata-mata menyerahkan dan mempercayakan pendidikan agama anak kepada guru yang mendidik mereka di sekolah. Padahal kita sendiri tahu bahwa kurikulum sistem pendidikan (sekolah negeri) kita sangat minim proporsi Pendidikan Agama Islam. Hanya dua jam pelajaran dalam satu minggu yang itupun terkadang berjalan kurang efektif. Belum lagi jika jadwal hari pelajaran agama libur. Seberapa luaskah ilmu agama itu? Cukupkah hanya dua jam pelajaran seminggu? Cukupkah itu? Cukupkah?

Rabu, 13 Juni 2012

Kebiasaan

Bismillahirrahmanirrahim



Sebut saja Kusuma. Ia seorang siswa yang baru saja pindah masuk ke salah satu sekolah favorit di kotanya. Sejak kedatangannya di sekolah itu, makin lama bukannya tambah semangat. Kusuma bingung, selagi beradaptasi dengan teman-teman barunya, pelajaran di sekolahnya dulu nggak sesulit di sekolah barunya. “Duh, sulitnya.” Kata-kata itu sesekali terlontar sewaktu pelajaran berlangsung. Entah itu pelajaran IPA ataupun IPS.

Memang, pelajaran di sekolah favorit berbeda dengan sekolah biasa. Terkadang materinya lebih banyak, lebih susah, pokoknya lebih lah. Mau ngaak mau, yang sekolah disana baik yang masuk dari awal semester, atau masuk di tegah-tengah semester harus kerja keras atur diri biar nggak ketinggalan (yang sejak awal aja harus kerja keras, apalagi yang baru masuk). Tapi karena zaman udah berubah, murid baru yang diharapkan bagus keluar dari jalur biasanya. Yang seharusnya sadar kalo dia sekolah favorit, eh malah tetep lakukan kebiasaan SMP. Alhasil, nilai-nilai yang muncul berkisar 50 an. Hiks, menyedihkan.

Sementara mengejar pelajaran yang nggigit, Kusuma juga harus adaptasi dengan teman-teman sekelasanya. Kebetulan ia masuk di kelas yang beda. Sementara kelas yang lain kata-kata misuh udah biasa dengar, tapi nggak berlaku di kelasnya. Kusuma harus mengganti kebiasaannya yang misuh karena didesak teman-teman sekelasnya. Emang sih, Kusuma nggak berubah dalam sekejap, dalam waktu singkat, sekali desakan. Tapi perlahan, ia menghilangkan kosakata kotornya. Alhasil, kata-kata misuh tak lagi terdengar di kelasnya, serima dengan nilai sekolahnya.

Itulah secuplik cerita tentang kebiasaan. Mengapa sih kita butuh adanya ‘pembiasaan’? Ya soalnya seharusnya kita sadar diri kalau kita ada di fase remaja, fase labil-labilnya hidup, yang menentukan jadi apa dewasa nanti. Contoh nyata lainnya yang ngetren waktu ini adalah kecanduan game (online). Awalnya cuma sekedar mencoba, atau terpaksa maen gara-gara diajak teman. Tapi karena asik, awalnya cuma nonton, terus nyoba lagi seminggu sekali, lanjut tiga hari sekali, akhirnya setiap hari..

Memang banyak di antara teman kita yang belum sadar akan fase ini. Dan akankah kita termasuk di dalamnya? Semoga saja tidak. Kalau sewaktu remaja aja rusak, gimana waktu dewasa nanti? Siapa yang bakal jadi pemimpin yang ‘nggenah’? Selagi ada waktu, untuk berubah emang susah. Untuk berubah emang berat. Tapi kalau nggak dibiasakan mulai sekarang, kapan lagi?

Jumat, 13 Januari 2012

Apa Yang Terjadi Pada Negeri Ini?

Assalamualaikum

Selepas sekolah Lujo menyandarkan tubuhnya pada kursi plastik sekedar melepas lelah. Dihadapannya, tersiar televesi dengan beragam acaranya. Sewaktu saudaranya mengganti-ganti channel karena bosan, Lujo terhentak dengan judul topik perbincangan yang diadakan salah satu televisi ternama. Judul acara tersebut adalah, "Menyelamatkan Negeri Autopilot". Sekilas, judul tersebut sangatlah menarik, sangatlah penting, membuka apa yang sebenarnya. Itu secara sekilas. Namun begitukah? Lujo pun merasa sedih, berapa juta pasang mata yang menonton acara ini, dan hanya berapa ribu pasang mata yang mempunyai filter.

Dari pendapat orang-orang yang diberi pertanyaan oleh Lujo, ia mendapati bahwa banyak orang yang menyukai channel tersebut. Karena topiknya begitu mengena, dan membuka cakrawala pemerintahan. Namun, seberapa bahayakah topik-topik semacam itu?

Pertama, susuri dulu apa tujuan channel tersebut. Hasilnya, sulit menemukan tujuan yang sebenarnya. Namun jika dilihat dari aktivitas-aktivitas channel tersebut, channel tersebut menyiapkan kondisi untuk pemilu berikutnya. Langsung sebut saja, Metro Tv yang awalnya menyiarkan Nasdem sebagai Restorasi Indonesia yang sekarang menjadi Partai. Mengerikan. Kembali lagi ke topik sebelumnya. Apa sih bahayanya?

Banyak pengamat politik mengkhawatirkan akan adanya bahaya besar yang disebabkan suara media massa. Mulai dari topik-topiknya, media massa menganggap buruk kinerja pemerintah. Karena topik-topik tersebut disiarkan beruntun dan berulang-ulang, seperti pepatah yang menyebutkan bahwa keburukan yang dilakukan 1000 kali, akan berubah menjadi hal yang biasa. Maka otomatis orang yang memercayai berita tersebut akan menganggap pemerintah sudah tidak bisa dipercaya lagi. Mereka lebih suka dengan media massa tersebut ketimbang pemerintah. Alhasil, mereka akan terseret kemana media massa berjalan. Ketika pemerintah sudah tidak dipercaya lagi, yang terjadi adalah kosongnya pemerintahan karena pemerintah sudah tidak dianggap lagi. Jika suatu negara tidak mau dipimpin, lalu siapa yang akan memimpin? Apakah dengan adanya berita tersebut mengerucutkan pernyataan bahwa "semua" sudah tidak dapat dipercaya lagi? Bagi mereka yang duduk di pemerintahan dengan ketulusan tentunya akan sakit hati.Jika suatu negara terjadi kekosongan pemerintahan, akan mudah masuk pemerintah-pemerintah ilegal yang siap menjerat publik. Maka apa bedanya dengan slogan "Divide et Impera?"

Secara implisit, postingan Lujo menyebutkan bahwa ia tidak setuju akan gerakan Nasdem. Jika perekrutan saja menggunakan cara yang busuk, bagaimana lagi jika sudah memimpin? Keep our mind waras.

Senin, 24 Oktober 2011

Ralat buku HTML PHP


 Assalamualaikum

Waktu itu (lupa kapan) Lujo kembali memandangi layar monitor. Bukan monitor di rumahnya, namun di rumah kedua, laboratorium komputer Smala. Ia memelajari HTML dan PHP sebagaimana teman-temannya yang lain. Namun, ia tak seperti biasanya. Ia terlihat kebingungan karena apa yang ia pelajari (dalam buku) berbeda dengan hasilnya (dalam komputer). Maka setelah ia mencoba mengutik sedikit, ia menemukan apa yang seharusnya terjadi. Lihat Buku HTML PHP pada bagian if else.  

 

4.2 Statement if .. else

Seperti halnya statement if, statement if .. else akan mengecek apakah syarat pada if terpenuhi, jika ya maka operasi dibawah if dilakukan, jika tidak maka operasi yang dibawah else yang dilakukan.

<?
$kondisi = 'lapar';
if ($kondisi == 'lapar) {
      echo "Aku akan beli makanan";
}else {
      echo "Aku tidak akan beli makanan";
}
?>

Diubah menjadi

<?
$kondisi = $_POST['lapar'];
if ($kondisi == lapar) {
      echo "Aku akan beli makanan";
}else {
      echo "Aku tidak akan beli makanan";
}
?>

Dan bisa jadi diubah menjadi

<? $kondisi = $_POST['lapar'];
      if ($kondisi == lapar) 
      {echo "Aku akan beli makanan";}
      else
      {echo "Aku tidak akan beli makanan";}?>  

Yang jelas, perbedaan enter itu tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah salahnya syntax yang dipakai. Misalkan pada operator pembanding, tidaklah sama dengan tanda inisialisasi. Mudah kan?