Minggu, 05 Desember 2010

Kesalahan Bahasa atau ,,, ?

Sewaktu aku masih duduk di bangku SMP tingkat pertama, aku masih ingat kata-kata guru bahasaku saat membicarakan kesalahan bahasa. Kurang lebih beliau mengatakan seperti ini, "Saat ini banyak orang yang salah mengucapkan bahasa, namun banyak yang bisa memahaminya. Entah yang berbicara yang agak eror, atau yang mendengar juga ikut eror? Contohnya, waktu upacara kalian mungkin sering mendengar teguran dari Pak ****, 'Kalian ini sudah sering diingatkan tapi tetep aja sulit diatur. Telinganya itu didengarkan!'" Serentak aku sama teman-temanku sekelas hening sejenak, lalu tertawa. Tak kami sadari, ternyata pembicaraan yang salah selama ini kami pahami. Sebuah perintah salah yang biasa kami dengarkan ternyata konyol jika disadari. Bagaimana mungkin kita bisa mendengar telinga sendiri? Iseng?

Cerita lagi, sewaktu aku lagi enggak duduk di bangku SMP. Waktu robotika, garap robot di SMP (enggak lagi duduk). Aku sama teman-temanku lagi enak-enak membuat mekanik dengan memotong CCB (papan elektronika polos) dengan gergaji. Di tengah-tengah, penjaga sekolahku yang senior (sepuh) mengawasi kami lantas beliau bilang pakai bahasa Jawa, "Ben gampang, sikile diincak." yang artinya 'biar mudah (memotong CCB), kakinya diinjak'. Reflek, temanku langsung menginjak CCB dan pemotongan pun jadi lebih gampang. Sementara teman-temanku asik memotong CCB, aku tertawa kecil sendiri. Temanku tanya, "Ono opo? (artinya 'ada apa?)" Aku segera mengulangi kata-kata beliau (penjaga sekolah), "Sikile diincak, sikile diincak." Teman-temanku yang mendengar terhenti dari aktivitas masing-masing, lalu tertawa.

Cerita yang satu ini waktu aku lagi di perjalanan. Dimulai dari pulang sekolah, mau ke PTC buat mengisi kehadiran suatu acara. Aku sama teman-temanku berangkat bareng, pakai sepeda motor. Mungkin waktu itu sudah pada capek ya, temanku yang jadi penunjuk jalan masuk ke jalan yang lebar lagi mulus. Pertamanya aku heran, kenapa kendaraan lain banyak yang ambil jalan putar balik. Yang kedua aku heran lagi, kenapa jalanan sepi, adanya kendaraan roda empat. Yang ketiga aku baca papan di pinggir jalan yang tertulis, "Anda memasuki kawasan tertib lalu lintas". Aku yang langsung sadar, teriak ke temanku yang ada di depan, "Bas, Bas, iki jalan tol!" Sambil noleh ke belakang, sepeda motornya langsung diperlambat. Mungkin kalian tahu apa yang salah? Kesalahannya ada di papan. Coba kalau pernyataannya dibalik. Kalau kita masuk ke jalan tol, kita masuk kawasan tertib lalu lintas. Kalau kita keluar dari jalan tol, apa kita ke luar dari kawasan tertib lalu lintas yang berati masuk kawasan tidak tertib lalu lintas?

Cerita lagi dan mungkin kalian pernah juga mengalami cerita yang satu ini. Ceritanya dimulai waktu aku lagi ngobrol sama teman sambil jalan (waktu itu pulang sekolah, jalan ke gerbang sekolah). Saking asyiknya ngobrol, aku jadi kurang memperhatikan yang lain. Nah, gara-gara itulah enggak sengaja aku nabrak temanku yang lain. Reflek, di langsung bilang, "He, he, kalau jalan pakai mata!" Pernah alami cerita ini kan?

Inilah uniknya kesalahan bahasa yang kita bisa memahaminya. Dan mungkin kalian juga merasa ada kesalahan lain yang secara tak sengaja kita pahami?

Kamis, 09 September 2010

Intro Yang Cukup Menarik


Rabu, 8 September 2010 jam 8-an. Malam ini, aku dapet tugas dari orangtua. Bayar tagihan listrik + telepon di tempat yang agak jauh dari rumah. Tanpa banyak cakap, aku berangkat sambil memenuhi secuil kebutuhanku (beli spidol). Tapi waktu di sana, aku ditolak sama petugas gara-gara enggak bawa nomor idpel (identitas pelanggan). Padahal, biasanya enggak kayak gitu. Tak utarakan sedikit argumenku, biasanya bayar tagihan kayak gimana. Tapi argumenku ditolak. Jadi, aku pulang buat ambil nomor idpel.

Di rumah, aku tanya ke orangtua buat bayar tagihan.butuh nomor idpel. Orangtuaku langsung komentar yang sedikit negatif (aku juga se..) soalnya hari ini orangtuaku sudah kesana tiga kali. [wiih]. Orangtuaku langsung masuk ke kamar buat ambil nomor idpel. Setelah itu, aku kembali berangkat dengan beberapa tugas tambahan [Alhamdulillah, dengan tugas tambahan itu aku jadi bisa ketemu teman lamaku..].

Setelah memenuhi tugas baru [juga ketemu teman lamaku], aku kembali ke tempat pembayaran. "Everything is Possible", kejadian enggak disangka datang. Petugasnya lagi keluar rumah buat beli bensin. awalnya aku heran, kenapa keluar cuma buat beli bensin. Tapi kata penjaga rumah 'cuma sebentar' aku jadi menerima tawaran buat hal yang tidak dinanti, 'menunggu'..

Kursi duduk disuguhkan. Kuterima dengan duduk di atasnya. Awalnya aku mau ajak ngobrol, eh malah ditinggal masuk rumah. Saat-saat yang tidak diharapkan terjadi. Lebih-lebih aku enggak bawa hape. Aku jadi bingung. Sebatang pensilpun aku enggak bawa buat nulis sesuatu. Aku berusaha biar waktu senggangg ini enggak sia-sia. Akhirnya, aku kembali ke sepeda motor, buka bagasi dan ambil kain. Aku bersihkan sepeda motorku [pinjaman dari orangtua] yang kebetulan lagi banyak debu. Ya, akhirnya aku berhasil menghindari 'menunggu sia-sia'. Tapi, motorku sudah cukup. Aku jadi bingung lagi mau ngapain. Aku duduk lagi di atas kursi kotak putih dari plastik yang enggak lentur.

Setelah entah berapa menit aku duduk 'geje', aku kepikiran sesuatu yang enggak biasa. Ya, enggak bisa. Aku mengingat apa-apa yang sudah terjadi di Smala. Saat aku memilih Smala sebagai pilihan pertama, sampai pertemuan terakhir dengan Smalane sebelum kejadian ini.

"Ding, ding, ding" Jam mewah pun berbunyi. Pikiranku tiba-tiba pecah. Aku mengira itu sebagai tanda bahwa jam menunjukkan pukul 21.00 [ternyata benar..]. Selama itukah aku menunggu? Aku jadi bingung lagi. Apa aku harus pulang, atau harus menunggu [udah kadung nunggu setengah jam lebih, eman ditinggal..]. Pilihanku pun jatuh pada 'menunggu lagi'.

Setelah entah berapa menit berlalu, pilihanku mulai mengarah ke 'harus pulang' mengingat waktu semakin larut [padahal enggak tahu jam berapa, sekedar feeling..] Aku pengen teriak mau pamit tapi sungkan sudah malam, enggak sengaja terlihat ada krayon merah di atas etalase. Sementara penjaga rumah lagi mengangkat telepon, aku mencari kertas untuk menuliskan pesan jika aku sudah pulang. Setelah ketemu kertas yang pas, penjaga rumah datang.
"Eh, maaf ya nak. Orangnya lagi di Giant." [berkisar 5-6 km dari tempat itu]
Kalimat pendek itu membuatku bertemu pada dua pilihan, sedih karena menunggu sia-sia, atau senang karena bisa pamit. Tapi pilihanku mengambil keduanya. Sehingga aku pulang dengan kecewa. Lalu, apa yang sudah aku pikirkan waktu mengisi waktu kosong itu? Coming soon..