Sewaktu aku masih duduk di bangku SMP tingkat pertama, aku masih ingat kata-kata guru bahasaku saat membicarakan kesalahan bahasa. Kurang lebih beliau mengatakan seperti ini, "Saat ini banyak orang yang salah mengucapkan bahasa, namun banyak yang bisa memahaminya. Entah yang berbicara yang agak eror, atau yang mendengar juga ikut eror? Contohnya, waktu upacara kalian mungkin sering mendengar teguran dari Pak ****, 'Kalian ini sudah sering diingatkan tapi tetep aja sulit diatur. Telinganya itu didengarkan!'" Serentak aku sama teman-temanku sekelas hening sejenak, lalu tertawa. Tak kami sadari, ternyata pembicaraan yang salah selama ini kami pahami. Sebuah perintah salah yang biasa kami dengarkan ternyata konyol jika disadari. Bagaimana mungkin kita bisa mendengar telinga sendiri? Iseng?
Cerita lagi, sewaktu aku lagi enggak duduk di bangku SMP. Waktu robotika, garap robot di SMP (enggak lagi duduk). Aku sama teman-temanku lagi enak-enak membuat mekanik dengan memotong CCB (papan elektronika polos) dengan gergaji. Di tengah-tengah, penjaga sekolahku yang senior (sepuh) mengawasi kami lantas beliau bilang pakai bahasa Jawa, "Ben gampang, sikile diincak." yang artinya 'biar mudah (memotong CCB), kakinya diinjak'. Reflek, temanku langsung menginjak CCB dan pemotongan pun jadi lebih gampang. Sementara teman-temanku asik memotong CCB, aku tertawa kecil sendiri. Temanku tanya, "Ono opo? (artinya 'ada apa?)" Aku segera mengulangi kata-kata beliau (penjaga sekolah), "Sikile diincak, sikile diincak." Teman-temanku yang mendengar terhenti dari aktivitas masing-masing, lalu tertawa.
Cerita yang satu ini waktu aku lagi di perjalanan. Dimulai dari pulang sekolah, mau ke PTC buat mengisi kehadiran suatu acara. Aku sama teman-temanku berangkat bareng, pakai sepeda motor. Mungkin waktu itu sudah pada capek ya, temanku yang jadi penunjuk jalan masuk ke jalan yang lebar lagi mulus. Pertamanya aku heran, kenapa kendaraan lain banyak yang ambil jalan putar balik. Yang kedua aku heran lagi, kenapa jalanan sepi, adanya kendaraan roda empat. Yang ketiga aku baca papan di pinggir jalan yang tertulis, "Anda memasuki kawasan tertib lalu lintas". Aku yang langsung sadar, teriak ke temanku yang ada di depan, "Bas, Bas, iki jalan tol!" Sambil noleh ke belakang, sepeda motornya langsung diperlambat. Mungkin kalian tahu apa yang salah? Kesalahannya ada di papan. Coba kalau pernyataannya dibalik. Kalau kita masuk ke jalan tol, kita masuk kawasan tertib lalu lintas. Kalau kita keluar dari jalan tol, apa kita ke luar dari kawasan tertib lalu lintas yang berati masuk kawasan tidak tertib lalu lintas?
Cerita lagi dan mungkin kalian pernah juga mengalami cerita yang satu ini. Ceritanya dimulai waktu aku lagi ngobrol sama teman sambil jalan (waktu itu pulang sekolah, jalan ke gerbang sekolah). Saking asyiknya ngobrol, aku jadi kurang memperhatikan yang lain. Nah, gara-gara itulah enggak sengaja aku nabrak temanku yang lain. Reflek, di langsung bilang, "He, he, kalau jalan pakai mata!" Pernah alami cerita ini kan?
Inilah uniknya kesalahan bahasa yang kita bisa memahaminya. Dan mungkin kalian juga merasa ada kesalahan lain yang secara tak sengaja kita pahami?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar