Kamis, 09 September 2010
Intro Yang Cukup Menarik
Rabu, 8 September 2010 jam 8-an. Malam ini, aku dapet tugas dari orangtua. Bayar tagihan listrik + telepon di tempat yang agak jauh dari rumah. Tanpa banyak cakap, aku berangkat sambil memenuhi secuil kebutuhanku (beli spidol). Tapi waktu di sana, aku ditolak sama petugas gara-gara enggak bawa nomor idpel (identitas pelanggan). Padahal, biasanya enggak kayak gitu. Tak utarakan sedikit argumenku, biasanya bayar tagihan kayak gimana. Tapi argumenku ditolak. Jadi, aku pulang buat ambil nomor idpel.
Di rumah, aku tanya ke orangtua buat bayar tagihan.butuh nomor idpel. Orangtuaku langsung komentar yang sedikit negatif (aku juga se..) soalnya hari ini orangtuaku sudah kesana tiga kali. [wiih]. Orangtuaku langsung masuk ke kamar buat ambil nomor idpel. Setelah itu, aku kembali berangkat dengan beberapa tugas tambahan [Alhamdulillah, dengan tugas tambahan itu aku jadi bisa ketemu teman lamaku..].
Setelah memenuhi tugas baru [juga ketemu teman lamaku], aku kembali ke tempat pembayaran. "Everything is Possible", kejadian enggak disangka datang. Petugasnya lagi keluar rumah buat beli bensin. awalnya aku heran, kenapa keluar cuma buat beli bensin. Tapi kata penjaga rumah 'cuma sebentar' aku jadi menerima tawaran buat hal yang tidak dinanti, 'menunggu'..
Kursi duduk disuguhkan. Kuterima dengan duduk di atasnya. Awalnya aku mau ajak ngobrol, eh malah ditinggal masuk rumah. Saat-saat yang tidak diharapkan terjadi. Lebih-lebih aku enggak bawa hape. Aku jadi bingung. Sebatang pensilpun aku enggak bawa buat nulis sesuatu. Aku berusaha biar waktu senggangg ini enggak sia-sia. Akhirnya, aku kembali ke sepeda motor, buka bagasi dan ambil kain. Aku bersihkan sepeda motorku [pinjaman dari orangtua] yang kebetulan lagi banyak debu. Ya, akhirnya aku berhasil menghindari 'menunggu sia-sia'. Tapi, motorku sudah cukup. Aku jadi bingung lagi mau ngapain. Aku duduk lagi di atas kursi kotak putih dari plastik yang enggak lentur.
Setelah entah berapa menit aku duduk 'geje', aku kepikiran sesuatu yang enggak biasa. Ya, enggak bisa. Aku mengingat apa-apa yang sudah terjadi di Smala. Saat aku memilih Smala sebagai pilihan pertama, sampai pertemuan terakhir dengan Smalane sebelum kejadian ini.
"Ding, ding, ding" Jam mewah pun berbunyi. Pikiranku tiba-tiba pecah. Aku mengira itu sebagai tanda bahwa jam menunjukkan pukul 21.00 [ternyata benar..]. Selama itukah aku menunggu? Aku jadi bingung lagi. Apa aku harus pulang, atau harus menunggu [udah kadung nunggu setengah jam lebih, eman ditinggal..]. Pilihanku pun jatuh pada 'menunggu lagi'.
Setelah entah berapa menit berlalu, pilihanku mulai mengarah ke 'harus pulang' mengingat waktu semakin larut [padahal enggak tahu jam berapa, sekedar feeling..] Aku pengen teriak mau pamit tapi sungkan sudah malam, enggak sengaja terlihat ada krayon merah di atas etalase. Sementara penjaga rumah lagi mengangkat telepon, aku mencari kertas untuk menuliskan pesan jika aku sudah pulang. Setelah ketemu kertas yang pas, penjaga rumah datang.
"Eh, maaf ya nak. Orangnya lagi di Giant." [berkisar 5-6 km dari tempat itu]
Kalimat pendek itu membuatku bertemu pada dua pilihan, sedih karena menunggu sia-sia, atau senang karena bisa pamit. Tapi pilihanku mengambil keduanya. Sehingga aku pulang dengan kecewa. Lalu, apa yang sudah aku pikirkan waktu mengisi waktu kosong itu? Coming soon..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar