Senin, 06 Januari 2014

Kontra Revolusi Industri

Teruntuk planner, pemerhati lingkungan, ekonom, dan pemerhati sosial yang ada di Indonesia.

***

Di suatu hari yang indah di salah satu hutan tropis, hiduplah kawanan burung hantu, kawanan ular, dan kawanan tikus. Mereka sering bermain kejar-kejaran, terkadang siang hari, terkadang malam hari. Mereka bermain sesuai peran mereka dalam rantai makanan. Ada yang mengejar, ada yang dikejar. Ada yang bersembunyi, ada yang mencari.

Suatu ketika, sekawanan manusia muncul membelah hutan. Mereka datang membawa senjata untuk ikut bermain. Ya, awalnya hanya bermain saja, tetapi lama-lama mereka menebang pohon. Satu pohon, dua pohon, hingga berujung membakar sebagian hutan. Burung hantu, ular, dan tikus hanya bisa pasrah melihat tempat bermainnya dirusak.

Beberapa bulan kemudian sekawanan hewan itu mencoba keluar. Mereka penasaran dengan kegiatan manusia yang bermain di rerumputan. Awalnya mereka takut mungkin akan dibunuh manusia. Namun karena manusia belum datang, mereka memberanikan diri untuk keluar.

http://static.photo.net/attachments/bboard/00S/00SV42-110446484.jpg

Setelah keluar, sekawanan tikus dan ular merasa bahagia karena tempat barunya sangat nyaman untuk bermain. Sementara burung hantu hanya bisa berdiam di pinggir sawah karena tempat yang baru terlalu terbuka. Burung hantu akan ikut bermain ketika matahari mulai tenggelam. Ketika manusia datang, manusia ternyata cukup ramah. Terkadang mereka ikut bermain bersama hewan-hewan mengejar tikus dan ular, juga terkadang duel dengan burung hantu.

***

Abad 18 peradaban Masehi pun tiba. Manusia mengubah peradabannya Dari sekadar memenuhi kebutuhan hidup menjadi memenuhi keinginan hidup. Revolusi industri digulirkan di Eropa. Kegiatan dasar mereka berubah. Awalnya menjadi petani, berubah menjadi pekerja pabrik. Awalnya bertani menggunakan cangkul dan bajak, berubah menggunakan mesin. Pepohonan pun semakin gencar ditebang menggunakan monster-monster besi.

http://skreened.com/render-product/n/c/q/ncqeihqgsmkkausacqly/forest-gump-grey-tank-top.american-apparel-unisex-tank.athletic-grey.w760h760.jpgHewan-hewan pun heran. Mereka merasa tempat bermainnya tak begitu nyaman untuk ditinggali. Sebagian tikus mati keracunan, sebagiannya juga ada yang sekarat. Begitu pula ular dan burung hantu. Anak-anak mereka banyak yang terlahir cacat. Tak jarang pula mati sebelum telurnya menetas. Lama-kelamaan, mereka tak sempat untuk bermain karena sedikit yang mau berkejaran hingga pada suatu saat mereka benar-benar menghilang. Hanya hewan-hewan mutasi yang mampu bertahan di kondisi itu

***

Penulis sendiri bingung kata-kata apa yang bisa mengekspresikan kehancuran alam setelah revolusi industri. Luas hutan berkurang, luas kutub berkurang, suhu udara meningkat, permukan air laut meningkat, tanah susah ditanami tanaman, lautan susah dicari ikan. Wabah penyakit menyebar, bencana topan meningkat, kebakaran meningkat, bencana meningkat, kemiskinan meningkat. Tak hanya alam yang rusak. Manusia pun berubah menjadi seperangkat alat untuk memenuhi keinginan manusia lain yang lebih berkuasa. Dehumanisasi, dari manusia bebas yang bekerja dengan alam menjadi manusia terikat yang bekerja dengan rutinitas menjemukan di perkantoran atau industri.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTeDgGm5tzdYNxwnB_extlWj624-iLRHtkzHqtncxzKZ2Gy76-_hd2bHPZ_cix8G-NYPbhcrFeD0b04CLnLp_RNT7848gPTLgcdw0ngg2rMiEimWf53kAnUAsk_U9haxFkbFToUHyjwaY/s1600/rich+poor.jpg
Memang, kekayaan manusia meningkat tajam, tetapi 80% kekayaan hasil revolusi industri hanya dinikmati oleh 20% manusia saja. Sementara sisanya, harus menghadapi kemiskinan, kelaparan, dan kematian bahkan harus perang melawan saudaranya sendiri demi memenuhi kebutuhan dasarnya seperti yang terjadi di daerah Afrika dan negara dunia ketiga pada umumnya.
 
***

2,5 abad yang lalu, para konglomerat melancarkan revolusi industri. Revolusi industri bukan sekadar pengeksploitasian alam atas manusia, tetapi juga pengekspoitasian manusia atas manusia. Ketamakan, individualis, dan ketidakadilan menjadi ciri yang dikemas indah dengan kedustaan. Kini di abad 21, saatnya environmentalis melancarkan revolusi hijau. Revolusi yang bukan sekadar mengembalikan alam ke bagaimana seharusnya, tetapi juga mengembalikan manusia ke bagaimana seharusnya. Keikhlasan, kepedulian, dan keadilan menjadi ciri yang dikemas indah dengan kejujuran. Kapan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar