Senin, 24 Oktober 2011

Ralat buku HTML PHP


 Assalamualaikum

Waktu itu (lupa kapan) Lujo kembali memandangi layar monitor. Bukan monitor di rumahnya, namun di rumah kedua, laboratorium komputer Smala. Ia memelajari HTML dan PHP sebagaimana teman-temannya yang lain. Namun, ia tak seperti biasanya. Ia terlihat kebingungan karena apa yang ia pelajari (dalam buku) berbeda dengan hasilnya (dalam komputer). Maka setelah ia mencoba mengutik sedikit, ia menemukan apa yang seharusnya terjadi. Lihat Buku HTML PHP pada bagian if else.  

 

4.2 Statement if .. else

Seperti halnya statement if, statement if .. else akan mengecek apakah syarat pada if terpenuhi, jika ya maka operasi dibawah if dilakukan, jika tidak maka operasi yang dibawah else yang dilakukan.

<?
$kondisi = 'lapar';
if ($kondisi == 'lapar) {
      echo "Aku akan beli makanan";
}else {
      echo "Aku tidak akan beli makanan";
}
?>

Diubah menjadi

<?
$kondisi = $_POST['lapar'];
if ($kondisi == lapar) {
      echo "Aku akan beli makanan";
}else {
      echo "Aku tidak akan beli makanan";
}
?>

Dan bisa jadi diubah menjadi

<? $kondisi = $_POST['lapar'];
      if ($kondisi == lapar) 
      {echo "Aku akan beli makanan";}
      else
      {echo "Aku tidak akan beli makanan";}?>  

Yang jelas, perbedaan enter itu tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah salahnya syntax yang dipakai. Misalkan pada operator pembanding, tidaklah sama dengan tanda inisialisasi. Mudah kan?

Senin, 29 Agustus 2011

Kemiskinan Pun Turun!

Assalamualaikum

Siang hari di Surabaya memang panas. Ia terbaring gelisah di kamar. Didampingi ponselnya yang sering berdering, ia beranjak menuju meja tempat laptop yang digunakan untuk menulis blog ini berada. Iseng-iseng mencari informasi tentang sekolah, ia memasuki banyak blog dari mbah sakti yang mampu mencari banyak hal, google. Ketika ia membaca kisah murid dari semak-semak (maksudnya desa yang fasilitasnya kurang) bermimpi mengubah dunia, ia terhenti dengan sebuah tautan yang menghantarkannya ke dalam suatu forum. Judulnya pun menarik, "Luar Biasa: Kemiskinan di Indonesia Benar-benar Menurun!!!" Meski raut wajahnya tak tampak akan sesuatu, ia membukanya..


============================================================================


"Kawan, akhirnya perlu kita pahami bahwa kemiskinan di negara ini benar-benar menurun : karena kebanyakan yang miskin telah banyak yang meninggal tertindas zaman..."


============================================================================


Kalimat miris ini mungkin hanya bergurau. Tapi, ya inilah potret negri kita. 

Sabtu, 27 Agustus 2011

Permainan Yang Terlupa

Assalamu'alaikum

Dibilang kemarin, kurang pas. Dibilang tadi pagi, juga kurang pas. Ya, terserah lah kapan waktunya. Yang jelas, kemarin sewaktu i'tikaf di Masjid Ali Irsyad baginya begitu mengharukan. Tidak hanya karena bertemu dengan orang-orang yang sudah lama tak ia temui, namun karena ia juga bertemu dengan sebuah topik yang meningatkannya pada masa lalunya.

==================================================================

"Deg!" Tiba-tiba ia terbangun. "Ternyata aku tertinggal." Ya, memang i'tikaf di masjid itu agak lama. Dalam satu rakaat, biasanya Imam membaca 3 halaman Quran. Awalnya ia hanya berniat mengistirahatkan kakinya yang sakit akibat kecelakaan motor minggu lalu. Mungkin karena kelelahan, ia tertidur hingga orang-orang membubarkan diri dari seusai shalat witir. Dengan wajah suntuk, ia menengok kanan-kiri mencari orang-orang yang dikenalinya. Alhasil, ia segera melangkah menuju tempat dimana ia temukan orang-orang yang mereka cari. Ya, mereka adalah Zuhroni A. F., astor Birama kelasnya yang sekarang berkuliah di ITB dan yang satunya adalah Moch. Ali, seorang teman yang dikenalnya saat daftar ulang Smala. Dan mereka pun berkumpul berbagi cerita, terutama kondisi perkuliahan.

Setelah lama berbicara perkuliahan, mereka pun beranjak keluar dari masjid untuk mencari makan sahur. Dan tempat yang mereka tuju adalah Depot 7, tempat yang asing bagi Lujo yang bertempat tinggal di daerah Timur. Sesampainya di sana, ia segera masuk ke depot yang sempit sesak penuh pelanggan. Ia segera duduk semeja dengan keluarga astornya. Entah, ada apa dengan mereka. Mereka duduk hanya saling menyapa dan tersenyum. Tak ada pembicaraan yang hangat di meja sempit itu. Sementara dalam kebisuan, Lujo terpikirkan sesuatu. Pikirannya kabur ke waktu yang telah berlalu. Saat Lujo dan Moch. Ali saling bercerita sebelum mereka tidur.

==================================================================

Dot matrix merah bertuliskan angka arab menunjukkan pukul 22:23. Moch. Ali mengeluarkan berkas-berkas dari tasnya. Sembari tidur-tiduran, mereka berbincang-bincang akan berkas itu. Berkas itu adalah lembaran kertas OIS -Olimpiade Ilmu Sosial-, yang diharuskan untuk mengangkat peran pemuda dalam membangun solidaritas di tanah air dalam bentuk karya tulis.


Awalnya, Moch. Ali mengankat topik dari bonek, yaitu bangsa ini perlu belajar melalui bonek. Ia memilih topik ini karena ia melihat solidaritas bonek yang begitu kuat dalam mendukung tim kesayangannya, Persebaya 1927. Namun setelah dikaji ulang, kesolidaritas bonek kurang pas. Mereka memang kompak dalam mendukung timnya. Namun mereka juga kompak dalam solidaritas 'rusuh' yang mengganggu masyarakat. Itu dilihat dari luarnya. Jika dari dalamnya, bonek terpecah menjadi 2 kelompok besar : bonek rusuh dan bonek damai. Memang mereka tidak saling membenci satu sama lain, tetapi jika topik ini diangkat, karya tulis Moch. Ali kemungkinan besar akan kalah. Maka, ia mengganti topik yang di angkatnya menjadi permainan tradisional. Sebuah topik yang hampir hilang ditelan zaman.

Kertas pertama yang dikeluarkan Moch. Ali adalah sebuah angket tentang permainan tradisional misalnya, "Permainan tradisional apa yang pernah Anda mainkan?". Mereka pun berbincang-bincang banyak. Mulai dari pindahnya topik, permainan tradisional yang pernah mereka mainkan, hingga angket yang baru.. Ada sebuah pertanyaan dari angket yang mengharukan bagi Lujo yang isinya, "Permainan mana yang lebih Anda pilih? 1. Permainan tradisional 2. Video Game.


Serentak, Lujo kaget. Ia pun memilih opsi kedua. Pikirannya pun meloncat dari pikirannya yang santai. Pemilihan topik ini memang  sederhana, tetapi isinya begitu mengena. Permainan tradisional (dari Nusantara) membutuhkan pemain minimal dua orang. Dan seringkali permainannya membuat ada kontak bahasa antar pemain. Dengan kata lain, permainan tradisional mampu mengakrabkan individu - individu yang bermain. Tentunya sangat tak menyenangkan, jika antar pemain bermain dengan suasana bisu. Lujo pun mendapat sebuah pertanyaan besar dalan hatinya, "Bagaimana solidaritas di tanah air bisa terbangun, jika pemudanya jarang berinteraksi langsung?"

Jumat, 26 Agustus 2011

Tips Internetan Murah Kartu AHA

Assalamu'alaikum

Sore yang cerah, di antara bising televisi, pompa air dan kendaraan yang berlalu lalang. Sesosok berbaju hitam duduk di depan laptop. Ya, Ia adalah aku. Ya, aku. Sambil menunggu adzan Magrib tiba, aku tuliskan sebuah pengalaman. Semoga bermanfaat buat pemakai kartu AHA. Silahkan disimak..

Awalnya mencoba-coba. Ia mencoba mengubah HP-nya menjadi sebuah modem. Memang, ia berhasil. Namun dengan kecepatan yang begitu minim, ditambah koneksi yang sering putus, ia hentikan eksperimennya. Ia teringat akan kejadian tak sengaja sewaktu menemani temannya membeli ponsel di sebuah toko ponsel. Ia melihat sebuah modem CDMA, dengan harga yang ekonomis, dibawah 200 ribu. Fantastis, ia pun mulai jarang makan siang atau sekedar membeli makanan ringan di sekolah karena ia menyisihkan uangnya untuk membeli modem tersebut. Apalagi, kebutuhannya akan internet cukup besar, sehingga di sekolah ia mencoba browsing mencari modem CDMA dengan harga ekonomis.Opini demi opini, ia kumpulkan. Mulai dari forum kaskus, postingan di blog, hingga komentar akan sebuah produk modem dari situs jual-beli elektronik. Ia mendapatkan informasi yang sama. Setelah terkumpul 200 ribu, ia pun mulai memberanikan diri untuk membeli modem.

Ternyata benar, modem Venus VT80n yang dibelinya di Hitech Mall -sebagai pusat elektronik di Surabaya- berharga di bawah 200 ribu. Tepatnya Rp 170.000,00. Setelah proses tawar-menawar yang sedikit sulit, -yah, harganya sama- Alhamdulillah, sebuah impian sejak SMP terkabulkan.


Hari demi hari, kejenuhan mulai mendatanginya. Paket internet StarOne tetap saja seperti memakai HP, koneksi lambat dan sering putus. Berkali-kali unduhannya gagal, sehingga ia memutuskan kembali ke Hitech Mall untuk konsultasi. Dan setelah konsultasi, ia mencoba membeli sebuah perdana yang penggunanya masih belum begitu banyak. Masih baru, harga ekonomis dan mempunyai banyak opini lebih positif. Kartu AHA.

Sepulang dari Hitech Mall, ia mengikuti seluruh prosedur yang ada untuk aktivasi internet. Namun ada sedikit yang kurang memuaskan, pemberian bonus internet seharian terlambat belasan jam. Karena ketidaktahuan, pulsa yang awalnya terisi penuh tak sadar tiba-tiba lenyap dalam sehari. Namun, ia kembali merogoh sisa tabungannya untuk membeli pulsa untuk membeli paket internet unlimited sebulan. Ia memilih paket Ekonomis bulanan dengan kecepatan hingga 200 Kbps -namun karena di pinggir kota, kecepatan rata-rata 80 Kbps- dengan tarif Rp 80.000,00. Puass!!

Belasan hari kemudian, ia mulai mengerutkan alisnya. Ternyata, paket unlimited ini ada kuotanya. Untuk paket ini, dikenai kuota 6 GB. Sisa waktu unlimited setelah kuota habis pun hanya bisa membuka situs-situs entheng, seperti m.facebook.com. Itupun harus menunggu sedikit lama.

Beberapa minggu setelah terjebak dalam lingkaran kuota yang harus menghemat pemakaian, ia terpikirkan sesuatu yang mampu mengeluarkannya dari masalah. Ia pun membandingkan paket ekonomis bulanan dengan harian:

Lalu ia menghitung, bagaimana caranya mendapat internet nyaman dengan tarif tiap bulan yang sama. Lihat hasilnya:
Rp 80.000,00 / Rp 4.000,00 = internetan 20 hari tiap bulan
500 MB * 20 = kuota internet 10 GB tiap bulan

Lalu, dikemanakan 10 hari yang hilang? Ia pun membaginya per minggu. Yaitu, ia harus bersabar untuk tidak berinternetan selama 2 hari tiap minggu. Jadi, tiap minggu ia membeli pulsa senilai Rp 20.000,00 untuk 5 hari berinternet ria. Namun perhitungannya tidak berhenti sampai di sini saja. Sewaktu ia sedang memasuki ruangan yang membuat pikirannya rileks, ia terpikirkan paket AHA unlimited yang lain. Ia menemukan bahwa internetan dengan paket Dinamis harian lebih mahal dibanding dengan paket yang lainnya. Mau mencoba?

Senin, 01 Agustus 2011

Surat Waktu

Assalsmu'alaikum
Sayup-sayup kipas angin menderu, terbangkan nyamuk dalam kamarku. Entah, di awal bulan yang mulia ini, aku teringat banyak hal. Sembari hafalan ayat-ayat Quran, konsentrasiku terbelah. Aku ingin curahkan ingatanku yang membuatku tak tidur. Dalam selembar blog ini, kutuliskan "Surat Waktu", apa-apa yang aku alami setahun terakhir..

Surat 1. Pra Perisai
Hari itu hari kesekian kalinya aku jejakkan langkahku di Smala. Dengan santainya, aku duduk di kelas tunggu, menunggu kejutan dibalik pintu yang tertutup. Guyonan-guyonan yang asik pun terasa garing. Entah, kenapa kelas ini terasa tegang. Banyak yang membisu, yang terdengar hanya PK/KW yang berusaha menghibur dan diselingi suara-suara keras di luar sana. Maka, datanglah kartu identitas. Masing-masing menerima kertas yang sama. Perisai segi lima. Dan satu-persatu kami -murid baru- keluar dari kelas, memenuhi panggilan.

Ketegangan pun mulai terasa. Tak kusangka, instruksi yang kami terima sangat berbeda dengan yang kubayangkan. Teriakan suara pun bersahut-sahutan. Kulihat koridor terasa begitu panjang. Aku pun menarik nafas panjang, dan segera memenuhi panggilan yang memaksa.

Setelah berjalan dengan penuh konsentrasi -tak mengingat apapun selain ini-, aku pun tersenyum. Tersenyum karena baru kali ini aku rasakan hal yang begitu 'wah'. Seyuman ini sangat terasa ketika mas KW dan mas-mas Samurai memberiku semangat. Ya, senyuman yang lugu ini mengantarkanku pada ketenangan. Ketenangan yang akan hilang tak lama lagi.

Surat 2. Perisai
Pagi yang dingin kala itu masih melekat dalam ketenanganku. Cahaya merah di langit pudar akan hadirnya langit biru. Berpacu dengan waktu, baru kali ini aku merasakan kecepatan motor lebih dari 60km/jam. Akhirnya sampai juga di Smala. "Selamat datang generasi hebat calon pemimpin peradaban". Spanduk itu tak terbaca karena aku berlari menuju suatu tempat.

Dan itulah awalnya. Tak kusangka, tulisan ini akan memakan banyak waktu. Aku tersadar, sekarang masuk larut malam. Pikranku mulai lelah, sepasang mata ini ingin menarik diri..

Perisai, Samurai, Cheerliar, LDKMS, Sekbid IV, komputer, SS dan kepanitiaan. Aku khawatir, surat ini malah tak jadi tertulis karena aku tertidur di antara ketikan keyboard.. 

Ya, setahun itu begitu lama. Aku merasakannya, aku melewati banyak hal. Dan sekarang, hal baru muncul.
-Adik kelas-
Di antara menuntut ilmu, di antara kegiatan non-akademis, tanggung jawab semakin besar..

Bismillahirrahmanirrahim..

Wassalam

Jumat, 20 Mei 2011

Sebaran Ilmu 1 : Aplikasi portabel

Assalamualaikum
Woaa, lama enggak posting. Karena jarangnya ada kesempatan + jarang ada inspirasi (terkadang langsung lupa) jadi vacuum lagi. Kali ini, aku punya informasi menarik buat yang suka travelling 'enteng-entengan', yaitu mengenai aplikasi portabel. InsyaAllah bermanfaat (meski yang bukan suka travelling).

Definisi portabel menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah mudah dibawa-bawa; mudah dijinjing.

Definisi aplikasi tidak kuambil dari KBBI karena aplikasi disini mengacu ke arah TI. Jadi kuambil dari ilmukomputer.com yang artinya software (perangkat lunak) yang dibuat oleh suatu perusahaan komputer untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu, misalnya Ms-Word, Ms-Excel.

Sedangkan Definisi aplikasi portabel menurut Wikipedia adalah sebuah perangkat lunak komputer yang dapat dibawa dalam peralatan portabel (contohnya: USB flash drive) dan dapat digunakan di setiap komputer tanpa perlu melalui proses instalasi terlebih dahulu. Ketika peratalan portable dihubungkan dengan komputer, aplikasi portabel tersebut dapat langsung digunakan. Keuntungan dari perangkat lunak jenis ini adalah Anda dapat membawa data beserta program yang dibutuhkan untuk membukanya ke mana saja untuk dapat dibuka di komputer manapun. Karena data disimpan di peralatan portabel, maka keamanan data tersebut juga diuntungkan karena tidak tersimpan di dalam komputer tertentu.

Nah, apa saja sih aplikasi portabel itu? Simak di bawah ini.

7Zip, aplikasi buat de/compress file dan folder.
Blender, aplikasi buat mengolah grafis 3D. Aku sendiri belum mahir memakai ini.
Foxit Reader, aplikasi buat membuka file jenis pdf. Ukurannya jauh lebih kecil dari Adobe Reader. Lebih ringan juga.
Geany, aplikasi IDE ini cocok buat pecinta programming. Tapi GTK tetap unduh sendiri ya :D.
GIMP, aplikasi buat mengolah grafis 2D. Namun harus banyak menyesuaikan diri bagi yang sudah terbiasa dengan Photoshop karena aplikasi ini sungguh 'berbeda'.
IDM, aplikasi ini sangat cocok buat yang suka mengunduh data disana-sini. Bisa dicari di Indowebster (khusus Indonesia).
OpenOffice.org, aplikasi layaknya MS Office. Sayangnya, GUI (penampilan) nya kuno jauh.
MediaGet, aplikasi buat mengunduh file jenis torrent. Dilengkapi dengan fasilitas pencarian torrent dan juga fasilitas media player. Bisa dicari di server Rusia.
Mozilla Firefox, aplikasi paling penting bagi penggila internet. Tanpa aplikasi ini, mungkin akan bersusah-susah via Internet Explorer 6 (kecuali kalau sudah ditingkatkan versinya).
Pidgin, aplikasi buat chatting. YM, GTalk, AIM, Bonjour, IRC, MXit, bahkan Facebook bisa lewat aplikasi ini. Menyenangkan bukan?
VLC Media Player, aplikasi ini sebagai pengganti Media Player Classic. Codecnya lebih lengkap, malah bisa buat streaming radio dan video.


Untuk hal sekuritas, aku lebih menyarankan untuk selalu sedia Smadav terbaru dalam storage atau anti virus lain yang mengakar dalam sistem komputer (installed). Tapi yang portabel juga ada, namanya ClamWin.

Lalu, apa kelebihan aplikasi portabel dibanding aplikasi yang terinstal?
Kelebihan pertama ada pada mobilitasnya. Karena ada komputer yang dipasang DeepFreeze, aplikasi yang membuat hardisk komputer hanya bisa menyimpan data sementara. Biasanya ini sangat berguna sewaktu di warnet.
Kelebihan kedua ada pada ukurannya yang lebih kecil. Ini karena biasanya ada file-file yang dihapus. Biasanya file tutorial atau help.

Dan semua yang ada di dunia ini berpasangan. Ada panjang, ada pendek. Ada terang, ada gelap. Ada kelebihan, ada kekurangan. Nah, apa sih kekurangannya?
Kekurangan aplikasi portabel biasanya lama dibuka karena biasanya ditaruh dalam flashdisk. Lalu ada sebagian file yang hilang.

Minggu, 20 Februari 2011

Parkir di manakah Engkau?

Assalamu'alaikum
Minggu 20 Pebruari 2011. Haa, aku kembali berselancar di dunia maya. Pada kesempatan ini, aku ingin menceritakan kisahku kemarin. Kisah yang menyadarkanku pada kepedulian. Tepatnya hari Sabtu ketika kegiatan non-akademis berlangsung di sekolah.

Pagi yang bertabur kehangatan surya, aku berangkat dari rumah Irsyad menuju Smala. Sebelumnya, aku menginap di rumah Irsyad bersama Mas Vovo. Untuk apa? Aku berlatih bahasa Pascal, Mas Vovo berlatih urusan geo-dalam hal peralatan karena Mas Vovo bersiap menghadapi final Geolympic di ITS hari ini. Semoga mereka menggemakan ‘Gema Almamater’. Sementara Irsyad? Aku tak begitu tahu aktifitasnya karena Ia ada di lantai atas kami. Kembali lagi ke taburan hangat surya. Pagi itu, mungkin pagi yang sedikit menyiksa mas Vovo. Mengapa? Karena Mas Vovo waktu itu naik sepeda. Sebelumnya, Ia mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju rumah Irsyad. Tapi Alhamdulillah, Mas Vovo masih bisa ceria. Sesampainya di sekolah, Irsyad dan Mas Vovo berkumpul bersama peserta fun bike. Sedangkan aku, memarkir motorku di depan masjid, dan segera ke luar sekolah mencari sarapan pagi (depan Multiplus). Maka mereka pun berangkat. Aku tak tahu, apakah Mas Vovo ikut atau tidak. Yang jelas, aku menikmati sarapanku [hehe..].

Tak bisa kuredam, tak bisa kupadam. Deru kendaraan berlalu lalang menembus celah-celah jendela masjid. Yang bisa kulakukan sementara, menjauh dan menghalanginya dengan pintu. Selepas sarapan, aku menuju kamar mandi dengan pintu tertutup[gak puenting..]. Setelah sarapan, aku kembali ke Smala menuju labkom. Di sana aku bertemu Mas Riski dan segera ijin ke kamar mandi. Sesudahnya, aku kembali lagi menuju labkom untuk kembali belajar bahasa Pascal sebagai persiapan olimpiade komputer tahun ini, hingga waktu hampir Dhuhur. Waw! Tugasnya banyak, tapi, “No pain, no gain”. Ujar Mas Riski. GO GET GOLD!

Seusai Dhuhur, aku kembali mengisi lambungku setelah 4 jam kotor terburai dalam dunia Pascal. Aku pun berkumpul dengan teman-teman Kebab, Kejar Bahasa Arab. Bahkan Mas Affan, alumni selaku mentor Kebab, duduk bersama dalam satu meja. Selepas itu, Kebab di mulai yang dilanjutkan dengan sedikit taujih dan tanya jawab seputar agama. Salah satu isinya adalah bersyukurlah kepada Allah karena merasakan nikmat Islam & Iman. Betapa banyak orang yang tidak mengenal Allah? Semoga kita tetap menuntut ilmu sehingga kita mengenal Allah.

Adzan Asar berkumandang. Dan iqamah telah dikatakan. Takbir pun terdengar. Sesaat aku mengalihkan pandanganku menuju pendopo utara dari Masjid. Aku melihat laki-laki muslim sedang duduk di undakan anak tangga pendopo. Ada apa dengannya? Semoga ia mendapatkan cahaya hidayah-Nya.
Seusai Asar berjamaah, aku kembali mengalihkan pandanganku menuju pendopo utara. Ternyata, di sana masih ada guru-guru SH kami [dulur]. Aku yang kebetulan di sebalah Ical-Afrizal segera memberitahukan hal ini. Maka kami berdua turun menuju pendopo utara. Kami pun berbincang-bincang mengenai SH, dan mengenai yang lain karena ada Irsyad yang selalu memecah kekakuan menjadi riang. Hingga sekitar pukul 16:53, kami mulai menyudahi pembicaraan. Semuanya mulai berpencar, aku melayangkan pandanganku ke depan masjid di mana letak motorku berada.

[!] Aku melihat kejanggalan pada motorku. Kejanggalan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Helmku tidak ada di motor. Ada apa? Aku pun mencarinya di dalam masjid, tak ada. Di parkir balik masjid, kosong. Di pos satpam, tak ada orang. Aku menuju kantin. Disana ada Smalapala [tepatnya di wall] dan teman-teman Kebab[di kantin]. Aku menuju kantin memecah suasana mereka dengan mengumumkan kehilangan helmku. Mereka pun memberiku beberapa saran. Lalu aku menuju labkom, ternyata sudah dikunci. Lalu aku menuju dapur yang biasanya para pak bon berkumpul. Aku menanyakan pada mereka, mereka tak tahu. Malah mereka menyalahkanku karena parkir di depan masjid, bukan di parkir balik masjid. Mereka menyarankanku untuk ke Pak Wiji, penjaga parkir. Baiklah, aku kesana. Tetapi, Pak Wiji sudah tidak di tempat. Aku menuju sekpa, mungkin ada di sana. Tapi juga tak ada, malah tak ada siapa-siapa. Lalu aku kembali ke motorku, dan pak bon datang.

Pak Bon : “Yo opo, wes ketemu?”
Lujo       : “Belum pak.”
Pak Bon : “Yawes, ngene. Ojok dipangan ati, mungkin iki gawe peringatan ae. Lain kali ojok parkir neng ngarepe masjid.”
Lujo       : “Oya pak.”
Pak Bon : “Awakmu janji lho yo.”
Lujo       : “Iya pak”
Pak Bon : “Yawes, terno aku mrono.”
Lujo       : “Mana pak?”
Pak Bon : “Kono iku lho.”
Lujo       : “Oya pak.”
Pak Bon : “Nah, awakmu wes janji yo. Ojok dibaleni. Sajane helmu iku tak singitno.”
Lujo       : “Ealah pak, pak.”
Pak Bon : “ Sek yo. Lha iki lho.”
Lujo       : “Wah, matur nuwun pak. Sepurane yo pak. Sepurane.”
Pak Bon : “y owes, gapopo. Ojok dibaleni yo. Sajane motormu iku wes tak amati ket biyen. Pak bon sing liyane to ngamati motormu. Wes bolak-balik to, motormu mbok parkir neng kene?”
Lujo       : “Oiyo pak.”
Pak Bon : “Nah, sajane iki guduk karepku nyingitno helmu. Guduk karepe pak bon ambek satpam. Iki karepe kepala sekolah. Wes ditetapno lak parkir iku neng nggone, gak sembarangan. Mau yo wes entuk ijin lan helmu disingitno.”
for i:= 8 to n do begin writeln(); end; -beberapa percakapan di skip karena banyak kalimat yang mengulang-
Lujo       : “Lha mbiyen tau ono kasus ta pak?”
Pak Bon : “Yo Alhamdulillah setaun dua taun iki gak ono. Mbiyen ono kilangan motor pas wayahe areke magriban, motore ditinggal gak ono sing ngawasi. Smala iki lak berbaur se, lak ono maling nyamar nggawe klambi seragam yo gak ngerti. Be’e awakmu dulinan voli rame-rame, motormu disendeni terus di kunci T. Yo bablas le. Mbiyen yo ono, hp papat ilang karo duwik 800 ewu. Iku yo pas shalat. Padahal tase yo cedek areke. Bareng lengah, yo nangis areke. Awakmu kelas piro se?”
Lujo       : “Kelas X pak.”
Pak Bon : “O yo pantes awakmu gak ngerti. Yowes, iki gawe peringatan ae. Mbiyen malah kejem-kejeman. Parkir gak neng nggone, banne ditancepi paku. Saiki lak sabar kabeh. 500 ilang lak gak sebanding lak kilangan helm, opo maneh motor. Lak ngesakno wongtuwamu nukokno maneh. Awakmu lak parkir ngutang yo gakpopo kan? ‘Pak, sesuk pak. Pak, ngutang pak.’ Pak Wiji yo sabar to?”
for j:= n to m do begin if r<>m then writeln() else writeln(m-1); writeln(m);end;
Lujo       : “Matur nuwun nggeh, assalamu’alaikum pak.”
Pak Bon : “Wa alaikum salam.”

Sungguh mengharukan percakapan tersebut. Betapa pedulinya Smala terhadap kita. Beliau-beliau begitu khawatir jika terjadi apa-apa dengan kita. Apakah kalian masih memarkir motor kalian di luar parkir? Tunggu saja, akan ada pak bon yang menghampiri motor kalian. Lalu, siapa pak bon tersebut? Coming soon.
Disaat aku menuliskan tulisan ini, sebuah pesan singkat menggetarkan hpku tanpa nada.

Jumat, 04 Februari 2011

Kebahagiaanku Hari Ini

Assalamu'alaikum

Bismillahirrahmanirrahim

Aku kembali dalam tatapan penuh informasi. Tatapan dunia tanpa batas jarak dan waktu. Dunia maya. Namun, itu tak ada hubungannya dengan tulisanku kali ini. Hari ini salah satu hari yang membahagiakanku lebih dari hari-hari biasa. Entah, berapa poin yang membuat hariku menjadi tak seperti hari biasa. Memang nikmat dari Sang Maha Pencipta, Allah, tak bisa kita hitung. Maka dari itu biar ku tuliskan beberapa poin yang membahagiakanku

Poin pertama, saat langit mulai tampakan cahaya merah dari timur. Pagi itu aku diperbolehkan orangtuaku untuk menginap di salah satu tempat yang kuidamkan selama satu semester terakhir. Pagi itu sangat mebahagiakanku karena hari-hari sebelumnya disaat aku ijin untuk menginap, selalu tak diperbolehkan. Tempat itu sangat familiar denganku jika kalian mengetahuinya. Lab. Komputer Smala. Subhanallah. Peralatan-peralatan menginap yang sudah kupersiapkan malam sebelumnya akhirnya tidak sia-sia seperti hari-hari sebelumnya. Meski aku berangkat ke sekolah sedikit mepet bel sekolah, aku tetap riang di jalanan sewaktu berangkat.

Poin kedua, saat jam olahraga. Maaf tak bisa kuceritakan. Hehe..

Poin ketiga, saat jam sekolah usai sebagai intro poin ini. Saat kumbar, alias kumpul bareng, yang berarti rapat dalam istilah sekbid 4 dan timsos. Waktu itu Limpat, selaku sekbid 4 mengabarkanku akan sesuatu yang hilang yang kucari seminggu terakhir ini. Sebut saja 'X' sebagai nama samaran. Limpat tahu tentang X itu dari pak Chamdi, selaku wakasek-kesiswaan. Maka, setelah kumbar aku pun tak segera menuju Pak Chamdi karena saat itu pikiranku terutupi 'sebentar lagi shalat Jumat'.Setelah shalat Jumat, aku mengajak mimik, salah satu teman dekatku untuk bersama-sama ke ruang guru. Awalnya aku berniat untuk menemui pak Chamdi dan Pak Dahlan, selaku guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Namun sewaktu di dalam ruang guru, kami tak menemui Pak Dahlan sehingga kami segera menuju Pak Chamdi di dekat pintu utara ruang guru.

"Assalamu'alaikum, permisi pak. [setelah beliau jawab] Permisi pak, apa ada penemuan barang?" Setelah beliau jawab dan menunjukkan barang, serentak aku berbicara dalam hati, "Ya, itu yang kucari selama ini! Subhanallah!" Maka aku pun sedikit berbincang-bincang tentang hpku yang hilang seminggu yang lalu. Hp itu ditemukan Pak Chamdi sendiri di kantin dua hari yang lalu. Aku pun terheran-heran. Ada apa dengan Smala ini? Itu kapan-kapan saja. Yang penting saat ini, aku bersyukur karena hpku kembali. Alhamdulillah dan terima kasih Pak Chamdi..

Poin keempat, setelah shalat asar, seusai acara Messi, Meraih Surga Bersama Islam. Waktu itu aku mengajak Ijad, salah satu teman dekatku untuk pergi ke Indosat, salah satu provider telephone-internet. Poin ke empat ini ada hubungannya dengan hari sebelumnya. Seusai aku kehilangan hp, aku meminjam hp kakakku yang dibilang rusak sama kakakku. Rusaknya pada bagian charger. Tapi setelah coba-coba dengan  slot charger yang bentuknya mini USB, memang sih butuh waktu lama buat utak-atik. Tapi setelah sekitar satu jam, akhirnya bisa charging. Hp itu pun kupinjam, kubawa ke sekolah. HP itu adalah hp ZTE c100.

Dan sesuatu yang mengagumkan pun datang setelah beberapa hari. Waktu aku lagi surfing alias ngenet di sekolah, aku mendapat informasi yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Informasi itu adalah ternyata hp yang kupinjam bisa menjadi modem! Awalnya aku mendapat informasi hp itu bisa dibuat modem jika di isi kartu Flexi. Tapi ternyata, ada informasi lain yang sesuai dengan apa yang telah aku lakukan pada hari setelahnya. Hp itu bisa dibuat modem dengan kartu Starone, kartu yang kupakai semenjak duduk di bangku SMP! Maka, aku di Indosat meminta username beserta passwordnya. Dan sekarang, semoga aku berhasil mengubah hp itu menjadi modem aktif karena pulsaku belum cukup untuk register.

Poin kelima, setelah sepulang dari Indosat, kembali ke Smala. Aku bertemu dengan beberapa kawan dekatku. Dan kami membicarakan seuatu yang begitu membahagiakan lagi. Regenerasi. Regenerasi apa yang dimaksud? Coming soon at another site.

Wassalam

Minggu, 09 Januari 2011

Pertama Kali Masuk

Assalamu'alaikum

Yah, beginilah postingan yang ke 3 dari blogku. Ada vacuum posting luama gara-gara juarang ngenet. Dalam seminggu belum tentu bisa ngenet. Kalaupun bisa, biasanya enggak buka blog. Untuk postingan kali ini, ada sedikit cerita buat kalian. Pertama kali masuk, masuk Smala. Met nyimak :D

Awalnya aku enggak tahu apa itu Smala. Jadi enggak begitu tertarik milih Smala. Waktu ada S2EC, aku juga enggak tahu, bahkan mungkin enggak mau tahu. Banyak temen-temenku yang ikut, aku cuma duduk-duduk ngobrol bareng temen-temenku yang enggak ikut juga. Padahal waktu itu sudah enggak ada pelajaran lagi karena ujian sudah lewat. Yang kutahu, Smala itu punya SKI yang bagus soalnya masku pernah masuk Smala, aktif di SKI. Cuma itu. Nah, waktu lewat mading di SMPN 6, aku tertarik. Ada tempelan baru yang bernama SKILASCUP 2010, lomba SKI nya Smala. Aku yang lihat itu langsung kerasa 'wah' soalnya jarang-jarang ada lomba yang model gitu. Aku langsung mencari partner buat lomba karena rencanaku aku ikut lomba cerdas-cermat sama murattal.

Awalnya aku ngajak Abdul yang kebetulan ada di aula. Waktu aku kasih tau tentang SKILASCUP, Dio yang di sebelahnya denger juga tentang itu. Dia minta buat ikut lomba cerdas-cermat. Awalnya aku sebelah mata (maaf yo), jadi aku cuma bilang ya enggak apa-apa.  Akhirnya aku ngajak mereka ke mading buat lihat informasinya. Setelah puas lihat kertas SKILASCUP, kami langsung ke ruang guru minta didaftarkan. (era katrok, jarang ikut lomba).

Waktu masuk ruang guru, kami segera mencari guru agama kami. Pak Mudjib Ridwan. Itulah nama beliau. Kami langsung berbincang-bincang dengan beliau hingga menghasilkan suatu keputusan. Kami diberi poster SKILASCUP dan daftar sendiri langsung di Smala. Kami juga diharuskan belajar lebih dalam tentang agama terutama Hadits dan sirah dan setelah seminggu kami diberi pertanyaan-pertanyaan. Semangat kami pun membara ditengah kehampaan laksana api dalam kegelapan. Sebelum pulang ke rumah masing-masing, kami merencanakan apa yang harus kami bawa untuk hari esok.

yeah.. besok adalah nafas segar bagi jiwaku yang rapuh.. Hatiku berbicara saat aku merebahkan diri sebelum tidur.

Paginya, kami bertemu untuk belajar bersama. Lokasi yang kami pilih adalah laboratorium komputer. Tempat yang hening, beralaskan karpet, berhembuskan udara kipas angin bersama pendingin ruangan. Setelah mendapat posisi 'pewe' dan tetap bersama, kami membagi tugas. Siapa yang dapat hadits, siapa yang dapat sirah, dan siapa yang dapat lain-lain. Melihat semangat kami yang menyala, aku mengingatkankan kembali supaya meluruskan niat. Belajar tidak untuk meraih medali, tetapi berawal dari mencari ilmu, supaya ilmu yang telah kami pelajari bermanfaat. Di tengah-tengah belajar bersama, kami pun membicarakan hari apa untuk mendaftar SKILASCUP. Maka kami sepakat untuk mendaftarkan bersama pada hari yang aku telah lupa hari apa itu. Sebut sajalah, hari kesepakatan kami. Setelah itu kami melanjutkan belajar diselingi saling bertanya.

Hari kesepakatan kami pun tiba. Semangat membara kami serasa lebih meninggi. Pagi itu kami segera berangkat ke Smala berboncengan. Meski hari itu  agak mendung, kami melewatinya dengan kecerahan kami. (woo..) Maka, semangat kami pun menghantarkan kami menuju Smala.

Meski kami sekarang tak satu sekolah, persahabatan di antara kami masihlah satu hati dan semoga semangat kami tetap berkobar. :D