Assalamu'alaikum
Minggu 20 Pebruari 2011. Haa, aku kembali berselancar di dunia maya. Pada kesempatan ini, aku ingin menceritakan kisahku kemarin. Kisah yang menyadarkanku pada kepedulian. Tepatnya hari Sabtu ketika kegiatan non-akademis berlangsung di sekolah.
Pagi yang bertabur kehangatan surya, aku berangkat dari rumah Irsyad menuju Smala. Sebelumnya, aku menginap di rumah Irsyad bersama Mas Vovo. Untuk apa? Aku berlatih bahasa Pascal, Mas Vovo berlatih urusan geo-dalam hal peralatan karena Mas Vovo bersiap menghadapi final Geolympic di ITS hari ini. Semoga mereka menggemakan ‘Gema Almamater’. Sementara Irsyad? Aku tak begitu tahu aktifitasnya karena Ia ada di lantai atas kami. Kembali lagi ke taburan hangat surya. Pagi itu, mungkin pagi yang sedikit menyiksa mas Vovo. Mengapa? Karena Mas Vovo waktu itu naik sepeda. Sebelumnya, Ia mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju rumah Irsyad. Tapi Alhamdulillah, Mas Vovo masih bisa ceria. Sesampainya di sekolah, Irsyad dan Mas Vovo berkumpul bersama peserta fun bike. Sedangkan aku, memarkir motorku di depan masjid, dan segera ke luar sekolah mencari sarapan pagi (depan Multiplus). Maka mereka pun berangkat. Aku tak tahu, apakah Mas Vovo ikut atau tidak. Yang jelas, aku menikmati sarapanku [hehe..].
Tak bisa kuredam, tak bisa kupadam. Deru kendaraan berlalu lalang menembus celah-celah jendela masjid. Yang bisa kulakukan sementara, menjauh dan menghalanginya dengan pintu. Selepas sarapan, aku menuju kamar mandi dengan pintu tertutup[gak puenting..]. Setelah sarapan, aku kembali ke Smala menuju labkom. Di sana aku bertemu Mas Riski dan segera ijin ke kamar mandi. Sesudahnya, aku kembali lagi menuju labkom untuk kembali belajar bahasa Pascal sebagai persiapan olimpiade komputer tahun ini, hingga waktu hampir Dhuhur. Waw! Tugasnya banyak, tapi, “No pain, no gain”. Ujar Mas Riski. GO GET GOLD!
Seusai Dhuhur, aku kembali mengisi lambungku setelah 4 jam kotor terburai dalam dunia Pascal. Aku pun berkumpul dengan teman-teman Kebab, Kejar Bahasa Arab. Bahkan Mas Affan, alumni selaku mentor Kebab, duduk bersama dalam satu meja. Selepas itu, Kebab di mulai yang dilanjutkan dengan sedikit taujih dan tanya jawab seputar agama. Salah satu isinya adalah bersyukurlah kepada Allah karena merasakan nikmat Islam & Iman. Betapa banyak orang yang tidak mengenal Allah? Semoga kita tetap menuntut ilmu sehingga kita mengenal Allah.
Adzan Asar berkumandang. Dan iqamah telah dikatakan. Takbir pun terdengar. Sesaat aku mengalihkan pandanganku menuju pendopo utara dari Masjid. Aku melihat laki-laki muslim sedang duduk di undakan anak tangga pendopo. Ada apa dengannya? Semoga ia mendapatkan cahaya hidayah-Nya.
Seusai Asar berjamaah, aku kembali mengalihkan pandanganku menuju pendopo utara. Ternyata, di sana masih ada guru-guru SH kami [dulur]. Aku yang kebetulan di sebalah Ical-Afrizal segera memberitahukan hal ini. Maka kami berdua turun menuju pendopo utara. Kami pun berbincang-bincang mengenai SH, dan mengenai yang lain karena ada Irsyad yang selalu memecah kekakuan menjadi riang. Hingga sekitar pukul 16:53, kami mulai menyudahi pembicaraan. Semuanya mulai berpencar, aku melayangkan pandanganku ke depan masjid di mana letak motorku berada.
[!] Aku melihat kejanggalan pada motorku. Kejanggalan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Helmku tidak ada di motor. Ada apa? Aku pun mencarinya di dalam masjid, tak ada. Di parkir balik masjid, kosong. Di pos satpam, tak ada orang. Aku menuju kantin. Disana ada Smalapala [tepatnya di wall] dan teman-teman Kebab[di kantin]. Aku menuju kantin memecah suasana mereka dengan mengumumkan kehilangan helmku. Mereka pun memberiku beberapa saran. Lalu aku menuju labkom, ternyata sudah dikunci. Lalu aku menuju dapur yang biasanya para pak bon berkumpul. Aku menanyakan pada mereka, mereka tak tahu. Malah mereka menyalahkanku karena parkir di depan masjid, bukan di parkir balik masjid. Mereka menyarankanku untuk ke Pak Wiji, penjaga parkir. Baiklah, aku kesana. Tetapi, Pak Wiji sudah tidak di tempat. Aku menuju sekpa, mungkin ada di sana. Tapi juga tak ada, malah tak ada siapa-siapa. Lalu aku kembali ke motorku, dan pak bon datang.
Pak Bon : “Yo opo, wes ketemu?”
Lujo : “Belum pak.”
Pak Bon : “Yawes, ngene. Ojok dipangan ati, mungkin iki gawe peringatan ae. Lain kali ojok parkir neng ngarepe masjid.”
Lujo : “Oya pak.”
Pak Bon : “Awakmu janji lho yo.”
Lujo : “Iya pak”
Pak Bon : “Yawes, terno aku mrono.”
Lujo : “Mana pak?”
Pak Bon : “Kono iku lho.”
Lujo : “Oya pak.”
Pak Bon : “Nah, awakmu wes janji yo. Ojok dibaleni. Sajane helmu iku tak singitno.”
Lujo : “Ealah pak, pak.”
Pak Bon : “ Sek yo. Lha iki lho.”
Lujo : “Wah, matur nuwun pak. Sepurane yo pak. Sepurane.”
Pak Bon : “y owes, gapopo. Ojok dibaleni yo. Sajane motormu iku wes tak amati ket biyen. Pak bon sing liyane to ngamati motormu. Wes bolak-balik to, motormu mbok parkir neng kene?”
Lujo : “Oiyo pak.”
Pak Bon : “Nah, sajane iki guduk karepku nyingitno helmu. Guduk karepe pak bon ambek satpam. Iki karepe kepala sekolah. Wes ditetapno lak parkir iku neng nggone, gak sembarangan. Mau yo wes entuk ijin lan helmu disingitno.”
for i:= 8 to n do begin writeln(); end; -beberapa percakapan di skip karena banyak kalimat yang mengulang-
Lujo : “Lha mbiyen tau ono kasus ta pak?”
Pak Bon : “Yo Alhamdulillah setaun dua taun iki gak ono. Mbiyen ono kilangan motor pas wayahe areke magriban, motore ditinggal gak ono sing ngawasi. Smala iki lak berbaur se, lak ono maling nyamar nggawe klambi seragam yo gak ngerti. Be’e awakmu dulinan voli rame-rame, motormu disendeni terus di kunci T. Yo bablas le. Mbiyen yo ono, hp papat ilang karo duwik 800 ewu. Iku yo pas shalat. Padahal tase yo cedek areke. Bareng lengah, yo nangis areke. Awakmu kelas piro se?”
Lujo : “Kelas X pak.”
Pak Bon : “O yo pantes awakmu gak ngerti. Yowes, iki gawe peringatan ae. Mbiyen malah kejem-kejeman. Parkir gak neng nggone, banne ditancepi paku. Saiki lak sabar kabeh. 500 ilang lak gak sebanding lak kilangan helm, opo maneh motor. Lak ngesakno wongtuwamu nukokno maneh. Awakmu lak parkir ngutang yo gakpopo kan? ‘Pak, sesuk pak. Pak, ngutang pak.’ Pak Wiji yo sabar to?”
for j:= n to m do begin if r<>m then writeln() else writeln(m-1); writeln(m);end;
Lujo : “Matur nuwun nggeh, assalamu’alaikum pak.”
Pak Bon : “Wa alaikum salam.”
Sungguh mengharukan percakapan tersebut. Betapa pedulinya Smala terhadap kita. Beliau-beliau begitu khawatir jika terjadi apa-apa dengan kita. Apakah kalian masih memarkir motor kalian di luar parkir? Tunggu saja, akan ada pak bon yang menghampiri motor kalian. Lalu, siapa pak bon tersebut? Coming soon.
Disaat aku menuliskan tulisan ini, sebuah pesan singkat menggetarkan hpku tanpa nada.