Sabtu, 27 Agustus 2011

Permainan Yang Terlupa

Assalamu'alaikum

Dibilang kemarin, kurang pas. Dibilang tadi pagi, juga kurang pas. Ya, terserah lah kapan waktunya. Yang jelas, kemarin sewaktu i'tikaf di Masjid Ali Irsyad baginya begitu mengharukan. Tidak hanya karena bertemu dengan orang-orang yang sudah lama tak ia temui, namun karena ia juga bertemu dengan sebuah topik yang meningatkannya pada masa lalunya.

==================================================================

"Deg!" Tiba-tiba ia terbangun. "Ternyata aku tertinggal." Ya, memang i'tikaf di masjid itu agak lama. Dalam satu rakaat, biasanya Imam membaca 3 halaman Quran. Awalnya ia hanya berniat mengistirahatkan kakinya yang sakit akibat kecelakaan motor minggu lalu. Mungkin karena kelelahan, ia tertidur hingga orang-orang membubarkan diri dari seusai shalat witir. Dengan wajah suntuk, ia menengok kanan-kiri mencari orang-orang yang dikenalinya. Alhasil, ia segera melangkah menuju tempat dimana ia temukan orang-orang yang mereka cari. Ya, mereka adalah Zuhroni A. F., astor Birama kelasnya yang sekarang berkuliah di ITB dan yang satunya adalah Moch. Ali, seorang teman yang dikenalnya saat daftar ulang Smala. Dan mereka pun berkumpul berbagi cerita, terutama kondisi perkuliahan.

Setelah lama berbicara perkuliahan, mereka pun beranjak keluar dari masjid untuk mencari makan sahur. Dan tempat yang mereka tuju adalah Depot 7, tempat yang asing bagi Lujo yang bertempat tinggal di daerah Timur. Sesampainya di sana, ia segera masuk ke depot yang sempit sesak penuh pelanggan. Ia segera duduk semeja dengan keluarga astornya. Entah, ada apa dengan mereka. Mereka duduk hanya saling menyapa dan tersenyum. Tak ada pembicaraan yang hangat di meja sempit itu. Sementara dalam kebisuan, Lujo terpikirkan sesuatu. Pikirannya kabur ke waktu yang telah berlalu. Saat Lujo dan Moch. Ali saling bercerita sebelum mereka tidur.

==================================================================

Dot matrix merah bertuliskan angka arab menunjukkan pukul 22:23. Moch. Ali mengeluarkan berkas-berkas dari tasnya. Sembari tidur-tiduran, mereka berbincang-bincang akan berkas itu. Berkas itu adalah lembaran kertas OIS -Olimpiade Ilmu Sosial-, yang diharuskan untuk mengangkat peran pemuda dalam membangun solidaritas di tanah air dalam bentuk karya tulis.


Awalnya, Moch. Ali mengankat topik dari bonek, yaitu bangsa ini perlu belajar melalui bonek. Ia memilih topik ini karena ia melihat solidaritas bonek yang begitu kuat dalam mendukung tim kesayangannya, Persebaya 1927. Namun setelah dikaji ulang, kesolidaritas bonek kurang pas. Mereka memang kompak dalam mendukung timnya. Namun mereka juga kompak dalam solidaritas 'rusuh' yang mengganggu masyarakat. Itu dilihat dari luarnya. Jika dari dalamnya, bonek terpecah menjadi 2 kelompok besar : bonek rusuh dan bonek damai. Memang mereka tidak saling membenci satu sama lain, tetapi jika topik ini diangkat, karya tulis Moch. Ali kemungkinan besar akan kalah. Maka, ia mengganti topik yang di angkatnya menjadi permainan tradisional. Sebuah topik yang hampir hilang ditelan zaman.

Kertas pertama yang dikeluarkan Moch. Ali adalah sebuah angket tentang permainan tradisional misalnya, "Permainan tradisional apa yang pernah Anda mainkan?". Mereka pun berbincang-bincang banyak. Mulai dari pindahnya topik, permainan tradisional yang pernah mereka mainkan, hingga angket yang baru.. Ada sebuah pertanyaan dari angket yang mengharukan bagi Lujo yang isinya, "Permainan mana yang lebih Anda pilih? 1. Permainan tradisional 2. Video Game.


Serentak, Lujo kaget. Ia pun memilih opsi kedua. Pikirannya pun meloncat dari pikirannya yang santai. Pemilihan topik ini memang  sederhana, tetapi isinya begitu mengena. Permainan tradisional (dari Nusantara) membutuhkan pemain minimal dua orang. Dan seringkali permainannya membuat ada kontak bahasa antar pemain. Dengan kata lain, permainan tradisional mampu mengakrabkan individu - individu yang bermain. Tentunya sangat tak menyenangkan, jika antar pemain bermain dengan suasana bisu. Lujo pun mendapat sebuah pertanyaan besar dalan hatinya, "Bagaimana solidaritas di tanah air bisa terbangun, jika pemudanya jarang berinteraksi langsung?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar