Senin, 29 Agustus 2011

Kemiskinan Pun Turun!

Assalamualaikum

Siang hari di Surabaya memang panas. Ia terbaring gelisah di kamar. Didampingi ponselnya yang sering berdering, ia beranjak menuju meja tempat laptop yang digunakan untuk menulis blog ini berada. Iseng-iseng mencari informasi tentang sekolah, ia memasuki banyak blog dari mbah sakti yang mampu mencari banyak hal, google. Ketika ia membaca kisah murid dari semak-semak (maksudnya desa yang fasilitasnya kurang) bermimpi mengubah dunia, ia terhenti dengan sebuah tautan yang menghantarkannya ke dalam suatu forum. Judulnya pun menarik, "Luar Biasa: Kemiskinan di Indonesia Benar-benar Menurun!!!" Meski raut wajahnya tak tampak akan sesuatu, ia membukanya..


============================================================================


"Kawan, akhirnya perlu kita pahami bahwa kemiskinan di negara ini benar-benar menurun : karena kebanyakan yang miskin telah banyak yang meninggal tertindas zaman..."


============================================================================


Kalimat miris ini mungkin hanya bergurau. Tapi, ya inilah potret negri kita. 

Sabtu, 27 Agustus 2011

Permainan Yang Terlupa

Assalamu'alaikum

Dibilang kemarin, kurang pas. Dibilang tadi pagi, juga kurang pas. Ya, terserah lah kapan waktunya. Yang jelas, kemarin sewaktu i'tikaf di Masjid Ali Irsyad baginya begitu mengharukan. Tidak hanya karena bertemu dengan orang-orang yang sudah lama tak ia temui, namun karena ia juga bertemu dengan sebuah topik yang meningatkannya pada masa lalunya.

==================================================================

"Deg!" Tiba-tiba ia terbangun. "Ternyata aku tertinggal." Ya, memang i'tikaf di masjid itu agak lama. Dalam satu rakaat, biasanya Imam membaca 3 halaman Quran. Awalnya ia hanya berniat mengistirahatkan kakinya yang sakit akibat kecelakaan motor minggu lalu. Mungkin karena kelelahan, ia tertidur hingga orang-orang membubarkan diri dari seusai shalat witir. Dengan wajah suntuk, ia menengok kanan-kiri mencari orang-orang yang dikenalinya. Alhasil, ia segera melangkah menuju tempat dimana ia temukan orang-orang yang mereka cari. Ya, mereka adalah Zuhroni A. F., astor Birama kelasnya yang sekarang berkuliah di ITB dan yang satunya adalah Moch. Ali, seorang teman yang dikenalnya saat daftar ulang Smala. Dan mereka pun berkumpul berbagi cerita, terutama kondisi perkuliahan.

Setelah lama berbicara perkuliahan, mereka pun beranjak keluar dari masjid untuk mencari makan sahur. Dan tempat yang mereka tuju adalah Depot 7, tempat yang asing bagi Lujo yang bertempat tinggal di daerah Timur. Sesampainya di sana, ia segera masuk ke depot yang sempit sesak penuh pelanggan. Ia segera duduk semeja dengan keluarga astornya. Entah, ada apa dengan mereka. Mereka duduk hanya saling menyapa dan tersenyum. Tak ada pembicaraan yang hangat di meja sempit itu. Sementara dalam kebisuan, Lujo terpikirkan sesuatu. Pikirannya kabur ke waktu yang telah berlalu. Saat Lujo dan Moch. Ali saling bercerita sebelum mereka tidur.

==================================================================

Dot matrix merah bertuliskan angka arab menunjukkan pukul 22:23. Moch. Ali mengeluarkan berkas-berkas dari tasnya. Sembari tidur-tiduran, mereka berbincang-bincang akan berkas itu. Berkas itu adalah lembaran kertas OIS -Olimpiade Ilmu Sosial-, yang diharuskan untuk mengangkat peran pemuda dalam membangun solidaritas di tanah air dalam bentuk karya tulis.


Awalnya, Moch. Ali mengankat topik dari bonek, yaitu bangsa ini perlu belajar melalui bonek. Ia memilih topik ini karena ia melihat solidaritas bonek yang begitu kuat dalam mendukung tim kesayangannya, Persebaya 1927. Namun setelah dikaji ulang, kesolidaritas bonek kurang pas. Mereka memang kompak dalam mendukung timnya. Namun mereka juga kompak dalam solidaritas 'rusuh' yang mengganggu masyarakat. Itu dilihat dari luarnya. Jika dari dalamnya, bonek terpecah menjadi 2 kelompok besar : bonek rusuh dan bonek damai. Memang mereka tidak saling membenci satu sama lain, tetapi jika topik ini diangkat, karya tulis Moch. Ali kemungkinan besar akan kalah. Maka, ia mengganti topik yang di angkatnya menjadi permainan tradisional. Sebuah topik yang hampir hilang ditelan zaman.

Kertas pertama yang dikeluarkan Moch. Ali adalah sebuah angket tentang permainan tradisional misalnya, "Permainan tradisional apa yang pernah Anda mainkan?". Mereka pun berbincang-bincang banyak. Mulai dari pindahnya topik, permainan tradisional yang pernah mereka mainkan, hingga angket yang baru.. Ada sebuah pertanyaan dari angket yang mengharukan bagi Lujo yang isinya, "Permainan mana yang lebih Anda pilih? 1. Permainan tradisional 2. Video Game.


Serentak, Lujo kaget. Ia pun memilih opsi kedua. Pikirannya pun meloncat dari pikirannya yang santai. Pemilihan topik ini memang  sederhana, tetapi isinya begitu mengena. Permainan tradisional (dari Nusantara) membutuhkan pemain minimal dua orang. Dan seringkali permainannya membuat ada kontak bahasa antar pemain. Dengan kata lain, permainan tradisional mampu mengakrabkan individu - individu yang bermain. Tentunya sangat tak menyenangkan, jika antar pemain bermain dengan suasana bisu. Lujo pun mendapat sebuah pertanyaan besar dalan hatinya, "Bagaimana solidaritas di tanah air bisa terbangun, jika pemudanya jarang berinteraksi langsung?"

Jumat, 26 Agustus 2011

Tips Internetan Murah Kartu AHA

Assalamu'alaikum

Sore yang cerah, di antara bising televisi, pompa air dan kendaraan yang berlalu lalang. Sesosok berbaju hitam duduk di depan laptop. Ya, Ia adalah aku. Ya, aku. Sambil menunggu adzan Magrib tiba, aku tuliskan sebuah pengalaman. Semoga bermanfaat buat pemakai kartu AHA. Silahkan disimak..

Awalnya mencoba-coba. Ia mencoba mengubah HP-nya menjadi sebuah modem. Memang, ia berhasil. Namun dengan kecepatan yang begitu minim, ditambah koneksi yang sering putus, ia hentikan eksperimennya. Ia teringat akan kejadian tak sengaja sewaktu menemani temannya membeli ponsel di sebuah toko ponsel. Ia melihat sebuah modem CDMA, dengan harga yang ekonomis, dibawah 200 ribu. Fantastis, ia pun mulai jarang makan siang atau sekedar membeli makanan ringan di sekolah karena ia menyisihkan uangnya untuk membeli modem tersebut. Apalagi, kebutuhannya akan internet cukup besar, sehingga di sekolah ia mencoba browsing mencari modem CDMA dengan harga ekonomis.Opini demi opini, ia kumpulkan. Mulai dari forum kaskus, postingan di blog, hingga komentar akan sebuah produk modem dari situs jual-beli elektronik. Ia mendapatkan informasi yang sama. Setelah terkumpul 200 ribu, ia pun mulai memberanikan diri untuk membeli modem.

Ternyata benar, modem Venus VT80n yang dibelinya di Hitech Mall -sebagai pusat elektronik di Surabaya- berharga di bawah 200 ribu. Tepatnya Rp 170.000,00. Setelah proses tawar-menawar yang sedikit sulit, -yah, harganya sama- Alhamdulillah, sebuah impian sejak SMP terkabulkan.


Hari demi hari, kejenuhan mulai mendatanginya. Paket internet StarOne tetap saja seperti memakai HP, koneksi lambat dan sering putus. Berkali-kali unduhannya gagal, sehingga ia memutuskan kembali ke Hitech Mall untuk konsultasi. Dan setelah konsultasi, ia mencoba membeli sebuah perdana yang penggunanya masih belum begitu banyak. Masih baru, harga ekonomis dan mempunyai banyak opini lebih positif. Kartu AHA.

Sepulang dari Hitech Mall, ia mengikuti seluruh prosedur yang ada untuk aktivasi internet. Namun ada sedikit yang kurang memuaskan, pemberian bonus internet seharian terlambat belasan jam. Karena ketidaktahuan, pulsa yang awalnya terisi penuh tak sadar tiba-tiba lenyap dalam sehari. Namun, ia kembali merogoh sisa tabungannya untuk membeli pulsa untuk membeli paket internet unlimited sebulan. Ia memilih paket Ekonomis bulanan dengan kecepatan hingga 200 Kbps -namun karena di pinggir kota, kecepatan rata-rata 80 Kbps- dengan tarif Rp 80.000,00. Puass!!

Belasan hari kemudian, ia mulai mengerutkan alisnya. Ternyata, paket unlimited ini ada kuotanya. Untuk paket ini, dikenai kuota 6 GB. Sisa waktu unlimited setelah kuota habis pun hanya bisa membuka situs-situs entheng, seperti m.facebook.com. Itupun harus menunggu sedikit lama.

Beberapa minggu setelah terjebak dalam lingkaran kuota yang harus menghemat pemakaian, ia terpikirkan sesuatu yang mampu mengeluarkannya dari masalah. Ia pun membandingkan paket ekonomis bulanan dengan harian:

Lalu ia menghitung, bagaimana caranya mendapat internet nyaman dengan tarif tiap bulan yang sama. Lihat hasilnya:
Rp 80.000,00 / Rp 4.000,00 = internetan 20 hari tiap bulan
500 MB * 20 = kuota internet 10 GB tiap bulan

Lalu, dikemanakan 10 hari yang hilang? Ia pun membaginya per minggu. Yaitu, ia harus bersabar untuk tidak berinternetan selama 2 hari tiap minggu. Jadi, tiap minggu ia membeli pulsa senilai Rp 20.000,00 untuk 5 hari berinternet ria. Namun perhitungannya tidak berhenti sampai di sini saja. Sewaktu ia sedang memasuki ruangan yang membuat pikirannya rileks, ia terpikirkan paket AHA unlimited yang lain. Ia menemukan bahwa internetan dengan paket Dinamis harian lebih mahal dibanding dengan paket yang lainnya. Mau mencoba?

Senin, 01 Agustus 2011

Surat Waktu

Assalsmu'alaikum
Sayup-sayup kipas angin menderu, terbangkan nyamuk dalam kamarku. Entah, di awal bulan yang mulia ini, aku teringat banyak hal. Sembari hafalan ayat-ayat Quran, konsentrasiku terbelah. Aku ingin curahkan ingatanku yang membuatku tak tidur. Dalam selembar blog ini, kutuliskan "Surat Waktu", apa-apa yang aku alami setahun terakhir..

Surat 1. Pra Perisai
Hari itu hari kesekian kalinya aku jejakkan langkahku di Smala. Dengan santainya, aku duduk di kelas tunggu, menunggu kejutan dibalik pintu yang tertutup. Guyonan-guyonan yang asik pun terasa garing. Entah, kenapa kelas ini terasa tegang. Banyak yang membisu, yang terdengar hanya PK/KW yang berusaha menghibur dan diselingi suara-suara keras di luar sana. Maka, datanglah kartu identitas. Masing-masing menerima kertas yang sama. Perisai segi lima. Dan satu-persatu kami -murid baru- keluar dari kelas, memenuhi panggilan.

Ketegangan pun mulai terasa. Tak kusangka, instruksi yang kami terima sangat berbeda dengan yang kubayangkan. Teriakan suara pun bersahut-sahutan. Kulihat koridor terasa begitu panjang. Aku pun menarik nafas panjang, dan segera memenuhi panggilan yang memaksa.

Setelah berjalan dengan penuh konsentrasi -tak mengingat apapun selain ini-, aku pun tersenyum. Tersenyum karena baru kali ini aku rasakan hal yang begitu 'wah'. Seyuman ini sangat terasa ketika mas KW dan mas-mas Samurai memberiku semangat. Ya, senyuman yang lugu ini mengantarkanku pada ketenangan. Ketenangan yang akan hilang tak lama lagi.

Surat 2. Perisai
Pagi yang dingin kala itu masih melekat dalam ketenanganku. Cahaya merah di langit pudar akan hadirnya langit biru. Berpacu dengan waktu, baru kali ini aku merasakan kecepatan motor lebih dari 60km/jam. Akhirnya sampai juga di Smala. "Selamat datang generasi hebat calon pemimpin peradaban". Spanduk itu tak terbaca karena aku berlari menuju suatu tempat.

Dan itulah awalnya. Tak kusangka, tulisan ini akan memakan banyak waktu. Aku tersadar, sekarang masuk larut malam. Pikranku mulai lelah, sepasang mata ini ingin menarik diri..

Perisai, Samurai, Cheerliar, LDKMS, Sekbid IV, komputer, SS dan kepanitiaan. Aku khawatir, surat ini malah tak jadi tertulis karena aku tertidur di antara ketikan keyboard.. 

Ya, setahun itu begitu lama. Aku merasakannya, aku melewati banyak hal. Dan sekarang, hal baru muncul.
-Adik kelas-
Di antara menuntut ilmu, di antara kegiatan non-akademis, tanggung jawab semakin besar..

Bismillahirrahmanirrahim..

Wassalam